Category: Uncategorized


cool

The WordPress.com Blog

As 2011 comes to end, we thought it’d be interesting to look back at the events that made headlines this year, and a few of the bloggers who were there in person (or closely connected to the events) to document history in the making. Here’s a recap of some of the biggest news stories of the year, as blogged by WordPress.com users.

January 25: Tens of thousands of people take to the streets of Cairo and other Egyptian cities to demand an end to the rule of President Hosni Mubarak.

Cairo-based journalist Max Strasser reported on the events from Istanbul. Marilyn Gardner posted updates on the situation after speaking with her daughter, who was living in Egypt for school.


March 11: Japan is hit with an 8.9-magnitude earthquake, the strongest in its history.

The author of Amblerangel.WordPress.com was at a grocery store in Shibuya-ku when it happened. She recounted the…

Lihat pos aslinya 436 kata lagi

Iklan

Cerita Sedih Tentang Ibu – Ini adalah cerita sedih tentang Ibu yang mungkin dapat menjadi inspirasi bagi kita yang membacanya agar senantiasa menyayangi Ibu yang sejauh ini telah bersusah payah untuk membesarkan kita. Cerita sedih tentang Ibu ini aslinya berjudul pengorbanan seorang Ibu yang saya peroleh dari situs cerpen.web.id.

Berikut adalah cerita sedih tentang ibu selengkapnya, semoga teman-teman merasa terhibur sekaligus mendapatkan inspirasi dengan kehadiran cerita ini. Selamat membaca…

Jalannya sudah tertatih-tatih, karena usianya sudah lebih dari 70 tahun, sehingga kalau tidak perlu sekali, jarang ia bisa dan mau keluar rumah. Walaupun ia mempunyai seorang anak perempuan, ia harus tinggal di rumah jompo, karena kehadirannya tidak diinginkan. Masih teringat olehnya, betapa berat penderitaannya ketika akan melahirkan putrinya tersebut. Ayah dari anak tersebut minggat setelah menghamilinya tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Di samping itu keluarganya menuntut agar ia menggugurkan bayi yang belum dilahirkan, karena keluarganya merasa malu mempunyai seorang putri yang hamil sebelum nikah, tetapi ia tetap mempertahankannya, oleh sebab itu ia diusir dari rumah orang tuanya.

Selain aib yang harus di tanggung, ia pun harus bekerja berat di pabrik untuk membiayai hidupnya. Ketika ia melahirkan putrinya, tidak ada seorang pun yang mendampinginya. Ia tidak mendapatkan kecupan manis maupun ucapan selamat dari siapapun juga, yang ia dapatkan hanya cemohan, karena telahelahirkan seorang bayi haram tanpa bapa. Walaupun demikian ia merasa bahagia sekali atas berkat yang didapatkannya dari Tuhan di mana ia telah dikaruniakan seorang putri. Ia berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang yang ia miliki hanya untuk putrinya seorang, oleh sebab itulah putrinya diberi nama Love – Kasih.

Siang ia harus bekerja berat di pabrik dan di waktu malam hari ia harus menjahit sampai jauh malam, karena itu merupakan penghasilan tambahan yang ia bisa dapatkan. Terkadang ia harus menjahit sampai jam 2 pagi, tidur lebih dari 4 jam sehari itu adalah sesuatu kemewahan yang tidak pernah ia dapatkan. Bahkan Sabtu Minggu pun ia masih bekerja menjadi pelayan restaurant. Ini ia lakukan semua agar ia bisa membiayai kehidupan maupun biaya sekolah putrinya yang tercinta. Ia tidak mau menikah lagi, karena ia masih tetap mengharapkan, bahwa pada suatu saat ayah dari putrinya akan datang balik kembali kepadanya, di samping itu ia tidak mau memberikan ayah tiri kepada putrinya.

Sejak ia melahirkan putrinya ia menjadi seorang vegetarian, karena ia tidak mau membeli daging, itu terlalu mahal baginya, uang untuk daging yang seyogianya ia bisa beli, ia sisihkan untuk putrinya. Untuk dirinya sendiri ia tidak pernah mau membeli pakaian baru, ia selalu menerima dan memakai pakaian bekas pemberian orang, tetapi untuk putrinya yang tercinta, hanya yang terbaik dan terbagus ia berikan, mulai dari pakaian sampai dengan makanan.

Pada suatu saat ia jatuh sakit, demam panas. Cuaca di luaran sangat dingin sekali, karena pada saat itu lagi musim dingin menjelang hari Natal. Ia telah menjanjikan untuk memberikan sepeda sebagai hadiah Natal untuk putrinya, tetapi ternyata uang yang telah dikumpulkannya belum mencukupinya. Ia tidak ingin mengecewakan putrinya, maka dari itu walaupun cuaca diluaran dingin sekali, bahkan dlm keadaan sakit dan lemah, ia tetap memaksakan diri untuk keluar rumah dan bekerja. Sejak saat tersebut ia kena penyakit rheumatik, sehingga sering sekali badannya terasa sangat nyeri sekali. Ia ingin memanjakan putrinya dan memberikan hanya yang terbaik bagi putrinya walaupun untuk ini ia harus bekorban, jadi dlm keadaan sakit ataupun tidak sakit ia tetap bekerja, selama hidupnya ia tidak pernah absen bekerja demi putrinya yang tercinta.

Karena perjuangan dan pengorbanannya akhirnya putrinya bisa melanjutkan studinya diluar kota. Di sana putrinya jatuh cinta kepada seorang pemuda anak dari seorang konglomerat beken. Putrinya tidak pernah mau mengakui bahwa ia masih mempunyai orang tua. Ia merasa malu bahwa ia ditinggal minggat oleh ayah kandungnya dan ia merasa malu mempunyai seorang ibu yang bekerja hanya sebagai babu pencuci piring di restaurant. Oleh sebab itulah ia mengaku kepada calon suaminya bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.

Pada saat putrinya menikah, ibunya hanya bisa melihat dari jauh dan itupun hanya pada saat upacara pernikahan di gereja saja. Ia tidak diundang, bahkan kehadirannya tidaklah diinginkan. Ia duduk di sudut kursi paling belakang di gereja, sambil mendoakan agar Tuhan selalu melindungi dan memberkati putrinya yang tercinta. Sejak saat itu bertahun-tahun ia tidak mendengar kabar dari putrinya, karena ia dilarang dan tidak boleh menghubungi putrinya. Pada suatu hari ia membaca di koran bahwa putrinya telah melahirkan seorang putera, ia merasa bahagia sekali mendengar berita bahwa ia sekarang telah mempunyai seorang cucu. Ia sangat mendambakan sekali untuk bisa memeluk dan menggendong cucunya, tetapi ini tidak mungkin, sebab ia tidak boleh menginjak rumah putrinya. Untuk ini ia berdoa tiap hari kepada Tuhan, agar ia bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat dan bertemu dengan anak dan cucunya, karena keinginannya sedemikian besarnya untuk bisa melihat putri dan cucunya, ia melamar dengan menggunakan nama palsu untuk menjadi babu di rumah keluarga putrinya.

Ia merasa bahagia sekali, karena lamarannya diterima dan diperbolehkan bekerja disana. Di rumah putrinya ia bisa dan boleh menggendong cucunya, tetapi bukan sebagai Oma dari cucunya melainkan hanya sebagai babu dari keluarga tersebut. Ia merasa berterima kasih sekali kepada Tuhan, bahwa ia permohonannya telah dikabulkan.

Di rumah putrinya, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan khusus, bahkan binatang peliharaan mereka jauh lebih dikasihi oleh putrinya daripada dirinya sendiri. Di samping itu sering sekali dibentak dan dimaki oleh putri dan anak darah dagingnya sendiri, kalau hal ini terjadi ia hanya bisa berdoa sambil menangis di dlm kamarnya yang kecil di belakang dapur. Ia berdoa agar Tuhan mau mengampuni kesalahan putrinya, ia berdoa agar hukuman tidak dilimpahkan kepada putrinya, ia berdoa agar hukuman itu dilimpahkan saja kepadanya, karena ia sangat menyayangi putrinya.

Setelah bekerja bertahun-tahun sebagai babu tanpa ada orang yang mengetahui siapa dirinya dirumah tersebut, akhirnya ia menderita sakit dan tidak bisa bekerja lagi. Mantunya merasa berhutang budi kepada pelayan tuanya yang setia ini sehingga ia memberikan kesempatan untuk menjalankan sisa hidupnya di rumah jompo.

Puluhan tahun ia tidak bisa dan tidak boleh bertemu lagi dengan putri kesayangannya. Uang pension yang ia dapatkan selalu ia sisihkan dan tabung untuk putrinya, dengan pemikiran siapa tahu pada suatu saat ia membutuhkan bantuannya.

Pada tahun lampau beberapa hari sebelum hari Natal, ia jatuh sakit lagi, tetapi ini kali ia merasakan bahwa saatnya sudah tidak lama lagi. Ia merasakan bahwa ajalnya sudah mendekat. Hanya satu keinginan yang ia dambakan sebelum ia meninggal dunia, ialah untuk bisa bertemu dan boleh melihat putrinya sekali lagi. Di samping itu ia ingin memberikan seluruh uang simpanan yang ia telah kumpulkan selama hidupnya, sebagai hadiah terakhir untuk putrinya.

Suhu diluaran telah mencapai 17 derajat di bawah nol dan salujupun turun dengan lebatnya, jangankan manusia anjingpun pada saat ini tidak mau keluar rumah lagi, karena di luaran sangat dingin, tetapi Nenek tua ini tetap memaksakan diri untuk pergi ke rumah putrinya. Ia ingin betemu dengan putrinya sekali lagi yang terakhir kali. Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, ia menunggu datangnya bus berjam-jam di luaran. Ia harus dua kali ganti bus, karena jarak rumah jompo tempat di mana ia tinggal letaknya jauh dari rumah putrinya. Satu perjalanan yang jauh dan tidak mudah bagi seorang nenek tua yang berada dlm keadaan sakit.

Setiba di rumah putrinya dlm keadaan lelah dan kedinginan ia mengetuk rumah putrinya dan ternyata purtinya sendiri yang membukakan pintu rumah gedong di mana putrinya tinggal. Apakah ucapan selamat datang yang diucapkan putrinya ? Apakah rasa bahagia bertemu kembali dengan ibunya? Tidak! Bahkan ia ditegor: “Kamu sudah bekerja di rumah kami puluhan tahun sebagai pembantu, apakah kamu tidak tahu bahwa untuk pembantu ada pintu khusus, ialah pintu di belakang rumah!”

“Nak, Ibu datang bukannya untuk bertamu melainkan hanya ingin memberikan hadiah Natal untukmu. Ibu ingin melihat kamu sekali lagi, mungkin yang terakhir kalinya, bolehkah saya masuk sebentar saja, karena di luaran dingin sekali dan sedang turun salju. Ibu sudah tidak kuat lagi nak!” kata wanita tua itu.

“Maaf saya tidak ada waktu, di samping itu sebentar lagi kami akan menerima tamu seorang pejabat tinggi, lain kali saja. Dan kalau lain kali mau datang telepon dahulu, jangan sembarangan datang begitu saja!” ucapan putrinya dengan nada kesal. Setelah itu pintu ditutup dengan keras. Ia mengusir ibu kandungnya sendiri, seperti juga mengusir seorang pengemis.

Tidak ada rasa kasih, jangankan kasih, belas kasihanpun tidak ada. Setelah beberapa saat kemudian bel rumah bunyi lagi, ternyata ada orang mau pinjam telepon di rumah putrinya “Maaf Bu, mengganggu, bolehkah kami pinjam teleponnya sebentar untuk menelpon ke kantor polisi, sebab di halte bus di depan ada seorang nenek meninggal dunia, rupanya ia mati kedinginan!”

Wanita tua ini mati bukan hanya kedinginan jasmaniahnya saja, tetapi juga perasaannya. Ia sangat mendambakan sekali kehangatan dari kasih sayang putrinya yang tercinta yang tidak pernah ia dapatkan selama hidupnya.

Seorang Ibu melahirkan dan membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang tanpa mengharapkan pamrih apapun juga. Seorang Ibu bisa dan mampu memberikan waktunya 24 jam sehari bagi anak-anaknya, tidak ada perkataan siang maupun malam, tidak ada perkataan lelah ataupun tidak mungkin dan ini 366 hari dlm setahun. Seorang Ibu mendoakan dan mengingat anaknya tiap hari bahkan tiap menit dan ini sepanjang masa. Bukan hanya setahun sekali saja pada hari-hari tertentu. Kenapa kita baru bisa dan mau memberikan bunga maupun hadiah kepada Ibu kita hanya pada waktu hari Ibu saja “Mother’s Day” sedangkan di hari-hari lainnya tidak pernah mengingatnya, boro-boro memberikan hadiah, untuk menelpon saja kita tidak punya waktu.

Kita akan bisa lebih membahagiakan Ibu kita apabila kita mau memberikan sedikit waktu kita untuknya, waktu nilainya ada jauh lebih besar daripada bunga maupun hadiah. Renungkanlah: Kapan kita terakhir kali menelpon Ibu? Kapan kita terakhir mengundang Ibu? Kapan terakhir kali kita mengajak Ibu jalan-jalan? Dan kapan terakhir kali kita memberikan kecupan manis dengan ucapan terima kasih kepada Ibu kita? Dan kapankah kita terakhir kali berdoa untuk Ibu kita?

Berikanlah kasih sayang selama Ibu kita masih hidup, percuma kita memberikan bunga maupun tangisan apabila Ibu telah berangkat, karena Ibu tidak akan bisa melihatnya lagi.

Ini sebuah kisah nyata yang terjadi di Jepang. Ketika sedang merenovasi sebuah rumah, seseorang mencoba merontokan tembok.

Rumah di Jepang biasanya memiliki ruang kosong diantara tembok yang terbuat dari kayu. Ketika tembok mulai rontok, dia menemu…kan seekor kadal terperangkap diantara ruang kosong itu karena kakinya melekat pada sebuah paku. Dia merasa kasihan sekaligus penasaran. Lalu ketika dia mengecek paku itu, ternyata paku tersebut telah ada disitu 10 tahun lalu ketika rumah itu pertama kali dibangun.

Apa yang terjadi? Bagaimana kadal itu dapat bertahan dengan kondisi terperangkap selama 10 tahun?

Dalam keadaan gelap selama 10 tahun, tanpa bergerak sedikitpun, itu adalah sesuatu yang mustahil dan tidak masuk akal. Orang itu lalu berpikir, bagaimana kadal itu dapat bertahan hidup selama 10 tahun tanpa berpindah dari tempatnya sejak kakinya melekat pada paku itu!

Orang itu lalu menghentikan pekerjaannya dan memperhatikan kadal itu, apa yang dilakukan dan apa yang dimakannya hingga dapat bertahan. kemudian, tidak tahu darimana datangnya, seekor kadal lain muncul dengan makanan di mulutnya …. astaga!!

Orang itu merasa terharu melihat hal itu. Ternyata ada seekor kadal lain yang selalu memperhatikan kadal yang terperangkap itu selama 10 tahun. Sungguh ini sebuah cinta…cinta yang indah. Cinta dapat terjadi bahkan pada hewan yang kecil seperti dua ekor kadal itu. apa yang dapat dilakukan oleh cinta? tentu saja sebuah keajaiban. Bayangkan, kadal itu tidak pernah menyerah dan tidak pernah berhenti memperhatikan pasangannya selama 10 tahun. bayangkan bagaimana hewan yang kecil itu dapat memiliki karunia yang begitu menganggumkan.

Penerimaan Siswa Baru Online

Wilayah Provinsi DKI Jakarta

Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta


http://jakarta.siap-ppdb.com

TANDA BUKTI PENDAFTARAN MANDIRI

PENERIMAAN SISWA BARU

Tahun Pelajaran 2011/2012

DINAS PENDIDIKAN PROVINSI DKI JAKARTA
menyatakan dokumen ini adalah
bukti sah Pendaftaran Mandiri Siswa Baru
Tahun Pelajaran 2011/2012
Info Pengajuan
No. Ujian *** Kode verifikasi Lokasi pengajuan Tanggal Jam (WIB)
021270098 TCQBKMYXUFU 118.96.123.120 26 Jun 2011 11:06:46
Biodata Siswa Data Nilai Siswa
No. Ujian *** 021270098 Ind Ing Mat IPA
NISN 5.00 6.60 7.75 7.75
Nama EDI WIBOWO
Kelamin Perempuan
Lahir JAKARTA, 18 Februari 1993 NA NA (Nilai Akhir) didapat dari
perhitungan yang telah diatur di
Dasar & Cara Seleksi
di situs PSB Online Provinsi DKI Jakarta
http://jakarta.siap-ppdb.com
Alamat Jl. kalibaru Tmr Rt.004/02 Kel. Kalibaru 6.775
Sekolah SMP SYAHID 2
Tahun lulus 2011
Daftar Pilihan Sekolah Urutan menandakan prioritas sekolah yang dipilih
1 SMK Negeri 36
Teknik Kapal Penangkap Ikan
PERINGATAN ! Siswa yang diterima namun TIDAK DAFTAR ULANG sesuai jadwal yang ditentukan, dianggap MENGUNDURKAN DIRI.
*) Jika Siswa SD telah diwakilkan tidak perlu diisi kolom tersebut.
**) Untuk Siswa SD, tanda tangan siswa bisa diwakilkan pada orang tua atau wali. Harap tulis nama terang dibawah tanda tangan.
a/n EDI WIBOWO
Menyetujui data diatas,
Ortu / Wali Siswa terdaftar **)

(…………………………………………….)

Menyetujui data diatas,
Siswa terdaftar *)

EDI WIBOWO

PERHATIAN !

  1. Harap melakukan VERIFIKASI PENDAFTARAN di salah satu sekolah terdekat mulai tanggal 1, 2, dan 4 Juli 2011 pukul 08.00 s.d 14.00 wib.
  2. Jika tidak melakukan verifikasi pendaftaran maka TIDAK TERDAFTAR sebagai peserta yang diikutkan proses seleksi PPDB Real Time Online DKI Jakarta 2011.
***) Pengganti No. SKHUN

 

Daftarkan dan Login ke http://siapku.com

Di sebuah desa hiduplah seorang anak perempuan yang lugu. Sheila namanya. Ia senang sekali bermain di tepi hutan. Ibunya selalu mengingatkannya agar tak terlalu jauh masuk ke hutan. Penduduk desa itu percaya, orang yang terlalu jauh masuk ke hutan, tak akan pernah kembali. Bagian dalam hutan itu diselubungi kabut tebal. Tak seorang pun dapat menemukan jalan pulang jika sudah tersesat.

Sheila selalu mengingat pesan ibunya. Namun ia juga penasaran ingin mengetahui daerah berkabut itu. Setiap kali pergi bermain, ibu Sheila selalu membekalinya dengan sekantong kue, permen, coklat, dan sebotol jus buah. Sheila sering datang ke tempat perbatasan kabut di hutan. Ia duduk di bawah pohon dan menikmati bekalnya di sana. Sheila ingin sekali melangkahkan kakinya ke dalam daerah berkabut itu. Namun ia takut.

Suatu kali, seperti biasa Sheila datang ke daerah perbatasan kabut. Seperti biasa ia duduk menikmati bekalnya. Tiba-tiba Sheila merasa ada beberapa pasang mata memperhatikannya. Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling untuk mencari tahu. Namun Sheila tak menemukan siapa-siapa. “Hei! Siapa pun itu, keluarlah! Jika kalian mau, kalian dapat makan kue bersamaku,” teriak Sheila penasaran.

Mendengar tawaran Sheila, beberapa makhluk memberanikan diri muncul di depan Sheila. Tampak tiga peri di hadapan Sheila. Tubuh mereka hanya separuh tinggi badan Sheila. Di punggungnya ada sayap. Telinga mereka berujung lancip. Dengan takut-takut mereka menghampiri Sheila. Anak kecil pemberani itu tanpa ragu-ragu menyodorkan bekalnya untuk dimakan bersama-sama. Peri-peri itu bernama Pio, Plea, dan Plop. Ketiga peri itu kakak beradik.

Sejak saat itu Sheila dan ketiga kawan barunya sering makan bekal bersama-sama. Kadang mereka saling bertukar bekal. Suatu hari Sheila bertanya kepada ketiga temannya, “Pio, Plea, Plop. Mengapa ada daerah berkabut di hutan ini? Apa isinya? Dan mengapa tak ada yang pernah kembali? Kalian tinggal di hutan sebelah mana?” tanya Sheila penuh ingin tahu. Mendengar pertanyaan Sheila ketiga peri itu saling bertukar pandang. Mereka tahu jawabannya namun ragu untuk memberi tahu Sheila. Setelah berpikir sejenak, akhirnya mereka memberitahu rahasia hutan berkabut yang hanya diketahui para peri.


“Para peri tinggal di balik hutan berkabut. Termasuk kami. Kabut itu adalah pelindung agar tak seorang pun dapat masuk ke wilayah kami tanpa izin. Kami tiga bersaudara adalah peri penjaga daerah berkabut. Jika kabut menipis, kami akan meniupkannya lagi banyak-banyak. Jika ada tamu yang tak diundang masuk ke wilayah kami, kami segera membuatnya tersesat,” jelas Pio, Plea, Plop.

Sheila terkagum-kagum mendengarnya. “Bisakah aku datang ke negeri kalian suatu waktu?” tanya Sheila berharap. Ketiga peri itu berembuk sejenak. “Baiklah. Kami akan mengusahakannya,” kata mereka. Tak lama kemudian Sheila diajak Pio, Plea dan Plop ke negeri mereka. Hari itu Sheila membawa kue, coklat, dan permen banyak-banyak. Sebelumnya, Sheila didandani seperti peri oleh ketiga temannya. Itu supaya mereka bisa mengelabui para peri lain. Sebenarnya manusia dilarang masuk ke wilayah peri. Ketiga teman Sheila ini juga memberi kacamata khusus pada Sheila. Dengan kacamata itu Sheila dapat melihat dengan jelas.

Daerah berkabut penuh dengan berbagai tumbuhan penyesat. Berbagai jalan yang berbeda nampak sama. Jika tidak hati-hati maka akan tersesat dan berputar-putar di tempat yang sama. Dengan bimbingan Pio, Plea, dan Plop akhirnya mereka semua sampai ke negeri peri. Di sana rumah tampak mungil. Bentuknya pun aneh-aneh. Ada rumah berbentuk jamur, berbentuk sepatu, bahkan ada yang berbentuk teko. Pakaian mereka seperti kostum untuk karnaval. Kegiatan para peri pun bermacam-macam. Ada yang mengumpulkan madu, bernyanyi, membuat baju dari kelopak bunga… Semua tampak riang gembira.

Sheila sangat senang. Ia diperkenalkan kepada anak peri lainnya. Mereka sangat terkejut mengetahui Sheila adalah manusia. Namun mereka senang dapat bertemu dan berjanji tak akan memberi tahu ratu peri. Rupanya mereka pun ingin tahu tentang manusia. Mereka bermain gembira. Sheila dan para anak peri berkejar-kejaran, bernyanyi, bercerita dan tertawa keras-keras. Mereka juga saling bertukar makanan. Pokoknya hari itu menyenangkan sekali.

Tiba-tiba ratu peri datang. “Siapa itu?” tanyanya penuh selidik. “Ratu, dia adalah teman hamba dari hutan utara,” jawab Plop takut. Ia terpaksa berbohong agar Sheila tak ketahuan. Ratu peri memperhatikan Sheila dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu ia pergi. Sheila bermain lagi dengan lincah. Namun sayang ia terpeleset. Sheila jatuh terjerembab. Ketika itu cuping telinga palsunya copot. Ratu peri melihat hal itu. Ia amat marah.
“Manusia! Bagaimana ia bisa sampai kemari? Siapa yang membawanya?” teriaknya mengelegar. Pio, Plea, dan Plop maju ke depan dengan gemetar. “Kami, Ratu,” jawab mereka gugup. “Ini pelanggaran. Jika ada manusia yang tahu tempat ini, maka tempat ini tidak aman lagi. Kalian harus dihukum berat,” teriak ratu peri marah. Sheila yang saat itu juga ketakutan memberikan diri maju ke depan. “Mereka tidak bersalah, Ratu. Akulah yang memaksa mereka untuk membawaku kemari.” “Kalau begitu, kau harus dihukum menggantikan mereka!” gelegar ratu peri.

Sheila dimasukkan ke dalam bak air tertutup. Ia akan direbus setengah jam. Namun ketika api sudah dinyalakan ia tidak merasa panas sedikit pun. “Keluarlah! Kau lulus ujian, ” kata ratu peri. Ternyata kebaikan hati Sheila membuat ia lolos dari hukuman. Ia diperbolehkan pulang dan teman perinya bebas hukuman. Ratu peri membuat Sheila mengantuk dan tertidur. Ia menghapus ingatan Sheila tentang negeri peri. Namun ia masih menyisakannya sedikit agar Sheila dapat mengingatnya di dalam mimpi. Ketika terbangun, Sheila berada di kasur kesayangannya.

Dahulu ada orang yang bernama Mahomet, yang hidup sebagai nelayan dengan menangkap ikan dan menjualnya. Suatu hari dia menderita sakit keras dan tidak mempunyai harapan lagi untuk sembuh, hingga sebelum dia meninggal, dia berpesan kepada istrinya bahwa istrinya harus tidak pernah membuka rahasia kepada anak laki-laki satu-satunya yang saat itu masih sangat kecil bahwa selama ini mereka hidup dari hasil penjualan ikan.

Ketika nelayan itu meninggal dan waktu terus berlalu hingga anaknya beranjak dewasa dan mulai berpikir untuk mendapatkan pekerjaan. Dia telah mencoba banyak hal, tetapi dia tidak pernah berhasil. Setelah ibunya juga meninggal, anak itu akhirnya menjadi sendirian dan hidup dalam kemiskinan, tanpa makanan dan uang. Suatu hari dia masuk ke gudang rumahnya, berharap bahwa dia akan menemukan sesuatu untuk dijual.

Dalam pencariannya, dia menemukan jala ayahnya. Dengan melihat jala ini, dia akhirnya sadar bahwa semasa muda, ayahnya adalah seorang nelayan. Lalu dia mengambil jala itu keluar dan pergi ke laut untuk menangkap ikan. Karena kurang terlatih, dia hanya dapat menangkap dua buah ikan, dimana yang satu dijualnya untuk membeli roti dan kayu bakar. Ikan yang satunya lagi dimasak dengan kayu bakar yang dibelinya tadi, dan dimakannya, saat itu dia memutuskan untuk menjadi nelayan.

Suatu hari dia menangkap seekor ikan yang sangat cantik sehingga dia tidak rela untuk menjual atau memakannya sendiri. Dia lalu membawanya pulang ke rumah, menggali sebuah sumur kecil, dan menempatkan ikan tersebut disana. Kemudian dia lalu tidur karena kelelahan dan kelaparan dan berharap bahwa keesokan harinya dia dapat bangun lebih pagi dan menangkap ikan yang lebih banyak.

Keesokan hari, saat pergi menangkap ikan dan pulang di malam hari, dia mendapati rumahnya menjadi sangat bersih dan telah di sapu selama dia tidak berada di sana. Dia menyangka bahwa tetangganya datang dan membersihkan rumahnya, dan atas kebaikan tetangganya membersihkan rumahnya, dia berdoa agar tetangganya tersebut mendapat berkah dari Tuhan.

Keesokan harinya, dia bangun seperti biasa, dengan gembira dia menengok ikannya yang ada di sumur kecil dan pergi untuk bekerja lagi. Pada saat pulang di malam hari, dia kembali menemukan bahwa rumahnya menjadi bersih dan rapih. Kemudian dia menghibur dirinya sendiri dengan memandangi ikannya, lalu pergi ke kedai dimana disana dia berpikir, siapa kira-kira yang telah merapihkan rumahnya. Saat sedang berpikir, salah seorang temannya bertanya, apa yang dipikirkannya. Dan anak nelayan tersebut menceritakan semua kisahnya. Akhirnya temannya berkata bahwa dia harus mengunci rumahnya sebelum berangkat dan membawa kuncinya, hingga tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam.

Anak nelayan dan Peri IkanAnak nelayan tersebut akhrnya pulang ke rumah, dan keesokan harinya, dia pura-pura akan keluar bekerja. Dia membuka pintu dan menutupnya kembali, kemudian dia bersembunyi di dalam rumah. Saat itu juga dia melihat ikannya meloncat keluar dari sumur dan menggoyangkan dirinya, berubah menjadi besar dan akhirnya kulit ikan menjadi terkelupas dan anak nelayan tersebut melihat seorang wanita yang sangat cantik jelita. Dengan cepat anak nelayan itu mengambil kulit ikan yang terkelupas tadi dan membuangnya ke dalam perapian.

“Kamu seharusnya tidak melakukan hal itu,” kata wanita itu, “Tapi apa boleh buat, yang terjadi biarlah terjadi dan tidak usah dipermasalahkan lagi.”

Setelah terbebas, wanita tersebut dilamar oleh si anak nelayan dan wanita tersebut menyetujui lamarannya, segala persediaan telah di buat untuk pernikahan mereka. Semua yang melihat wanita itu menjadi kagum dan terpana oleh kecantikannya dan mereka berbisik-bisik bahwa wanita tersebut lebih pantas menjadi pengantin seorang Padishah (Sultan). Kabar ini dengan cepat menyebar ke telinga Padishah, lalu Padishah memerintahkan agar wanita tersebut di bawa ke hadapannya. Saat Padishah melihat wanita yang sangat cantik jelita itu, dia langsung jatuh cinta, dan bertujuan untuk menikahinya.

Karena itu dia menemui anak nelayan tersebut dan berkata “Jika dalam empat-puluh hari kamu bisa membangunkan saya istana dari emas dan permata di tengah-tengah lautan, saya tidak akan mengambil wanita yang akan kamu nikahi itu, tetapi apabila kamu gaga, saya akan mengambilnya dan membawanya pergi.” Lalu anak nelayan itu pulang ke rumah dengan hati sedih dan menangis. “Mengapa kamu menangis?” tanya wanita yang merupakan peri ikan itu. Anak nelayan tersebut lalu menceritakan apa yang diperintahkan oleh Padishah, tetapi wanita itu berkata dengan gembira: “Jangan menangis, kita bisa menyelesaikannya. Pergilah ke tempat dimana kamu pernah menangkap saya semasa menjadi ikan dan lemparkan sebuah batu ke tempat itu. Sesosok jin akan muncul dan mengucapkan kata ‘apa perintahmu?’ Katakan bahwa seorang wanita mengirimkan salam untuknya dan meminta sebuah bantal. Dia akan memberikannya dan lemparkan bantal tersebut ke laut dimana Padishah menginginkan istananya di bangun. Kemudian kembalilah ke rumah.”

Anak nelayan tersebut mengikuti semua petunjuk, dan pada hari berikutnya, ketika dia melihat ke depan dimana bantal tersebut dilemparkan dilaut, dia melihat sebuah istana yang lebih indah dari apa yang Padishah gambarkan dan minta. Dengan gembira mereka cepat-cepat menyampaikan ke istana bahwa tempat tersebut telah di bangun.

Padishah menjadi terkejut, tetapi karena tujuan Padishah sendiri bukanlah istana itu melainkan untuk memisahkan anak nelayan dengan wanita yang diidam-idamkannya, Padishah atau Sultan tersebut memberi perintah pada anak nelayan itu untuk membuatkan jembatan dari Kristal menuju ke istananya. Selanjutnya anak nelayan itu pulang dan menangis sedih kembali. Saat wanita yang sebenarnya adalah Peri Ikan tersebut melihatnya bersedih dan mendengarkan keluhan dari anak nelayan tersebut, dia berkata: “Pergilah ke tempat sesosok jin seperti sebelumnya, dan mintalah padanya sebuah bantal guling, Ketika kamu sudah mendapatkannya, buanglah ke tempat dimana istana itu berada.” Kemudian anak nelayan tersebut melakukan apa yang disuruhkan oleh calon istrinya dan begitu berbalik, dia melihat sebuah jembatan yang indah dari kristal. Dia kemudian menemui Padishah dan memberitahu bahwa tugasnya telah selesai.

Anak nelayan membalikkan penggilingan kopiPadishah merasa tidak puas kemudian memerintahkan anak nelayan itu menyiapkan perjamuan yang besar hingga seluruh penduduk dapat makan disana dan harus masih ada makanan yang tersisa. Seperti sebelumnya, anak nelayan itu pulang dan menceritakan hal itu kepada calon istrinya. Mendengar perintah dari Padishah kepada anak nelayan tersebut, dia berkata “Pergilah kembali ke tempat sesosok jin tadi, dan mintalah penggilingan kopi dari dia, tetapi hati-hatilah agar jangan sampai menumpahkannya dalam perjalanan.” Anak nelayan itu kemudian berhasil mengambil penggilingan kopi dari jin tanpa mengalami kesulitan. Tetapi saat membawanya pulang, dengan ceroboh dia menumpahkannya, hingga tujuh dari delapan piring terjatuh keluar dari penggilingan kopi. Dia lalu memungutnya dan membawanya pulang.

Pada hari yang telah ditentukan, semua penduduk yang harus datang menurut undangan dari Padishah, menuju ke rumah anak nelayan tersebut dan mengambil bagian dalam perjamuan besar tersebut. Walaupun semua tamu dapat makan sekenyang-kenyangnya, masih juga banyak makanan yang tersisa. Anak nelayan tersebut berhasil memenuhi tugasnya kembali.

Karena keras kepala, Padishah memerintahkan kembali anak nelayan itu untuk menghasilkan seekor keledai dari sebuah telur. Anak nelayan tersebut memberi tahu wanita calon istrinya itu, apa saja yang diperintahkan oleh Padishah, dan wanita tersebut memberi tahu dia bahwa dia harus memberikan tiga telur ke sosok Jin di tengah laut kemudian membawanya pulang kembali tanpa memecahkannya. Anak Nelayan kemudian melakukan apa yang disuruhkan oleh wanita itu, tetapi di tengah jalan pulang, dia menjatuhkan satu biji telur dan memecahkannya. Dari telur tersebut, meloncatlah keluar seekor keledai besar, yang akhirnya lari dan menceburkan dirinya ke laut sampai tidak kelihatan lagi.

Anak nelayan tersebut tiba di rumah dengan aman dan membawa dua buah telur yang tersisa. “Mana yang ketiga?” tanya wanita itu kepadanya. “Pecah di perjalanan,” katanya. “Kamu seharusnya lebih berhati-hati,” kata wanita itu, “tapi apa yang telah terjadi, biarlah terjadi.”

Anak nelayan dan keledaiKemudian anak nelayan membawa telur-telur itu ke Padishah, dan meminta agar dia diijinkan naik ke atas sebuah bangku untuk melemparkan telur tersebut di lantai. Padishah mengijinkannya dan anak nelayan tersebut lalu berdiri diatas bangku dan melemparkan telur ke lantai. Saat itu seekor keledai yang besar meloncat keluar dari telur yang pecah dan jatuh ke atas Padishah yang langsung mencoba menghindar untuk menyelamatkan diri. Anak nelayan itu kemudian menyelamatkan Padishah dari bahaya, dan keledai yang tadi lalu berlari keluar dan menceburkan dirinya ke dalam laut.

Dengan rasa putus asa, Padishah atau sultan tadi mencari-cari hal yang mustahil dan yang tidak mungkin dapat di kerjakan oleh anak nelayan. Dia lalu meminta agar anak nelayan tersebut membawakan dia anak bayi yang umurnya sehari tetapi sudah dapat berbicara dan berjalan.

Wanita calon istri anak nelayan kemudian menyuruh anak nelayan tersebut ke sesosok jin di tengah laut dan membawakan hadiah-hadiah dari wanita itu, dan memberitahunya bahwa dia berharap dapat melihat kemenakannya yang masih bayi. Anak nelayan itu kemudian pergi ke tengah laut dan memanggil sosok jin itu dan menyampaikan pesannya. Sosok Jin itu berkata, “Dia masih berumur beberapa jam, ibunya mungkin tidak mau memberikannya, tapi, tunggulah sebentar, saya akan mencoba menanyakannya.”

Bayi dan PadishahSingkat kata, jin tersebut pergi dan segera muncul kembali dengan bayi yang baru lahir ditangannya. Ketika anak nelayan tersebut melihat anak bayi itu, anak bayi itu berlari ke pangkuannya dan berkata “Kita akan ke bibi saya ya?” Anak nelayan mengiyakan dan membawa anak bayi itu ke rumah, dan ketika bayi tersebut melihat wanita itu, dia berteriak “Bibi!” dan memeluknya. Anak nelayan kemudian membawa bayi itu ke hadapan Padishah.

Saat bayi tersebut dibawa ke hadapan Padishah, bayi tersebut naik ke pangkuan Padishah dan memukul wajahnya, dan berkata: “Bagaimana mungkin orang dapat membangun istana dari emas dan permata dalam empat-puluh hari? membangun jembatan dari kristal juga dalam waktu yang sama? Bagaimana satu orang bisa memberi makan seluruh penduduk yang ada di kerajaan ini? Bagaimana mungkin keledai dapat dimunculkan dari sebuah telur?” setiap kalimat yang meluncur dari mulut sang bayi diiringi dengan tamparan keras ke wajah Padishah, hingga akhirnya Padishah berkata kepada anak nelayan bahwa dia boleh menikahi wanita itu bila dia dapat menjauhkan Padishah dari bayi yang menampari wajahnya terus menerus. Anak nelayan tersebut pulang sambil menggendong bayi itu ke rumah, kemudian menikahi wanita itu dan mengadakan pesta selama empat puluh hari empat puluh malam.

 Peri mungil itu mendatangiku sambil tersenyum dan melambai. Aku balas lambaiannya. Sudah bisa terbaca… dari matanya yang berbinar, ia membawa kabar gembira yang tidak lama terlontar dari mulutnya yang manis. Dia berbicara, sambil menatapku dengan serius.

“Ada apakah gerangan?”
“Tidakkan kau mendengar kabar wahai temanku, seruan sayembara pembuatan puisi bagi seluruh penghuni istana?”
“Aku tidak tahu…”
“Karena itu aku datang untuk menyampaikannya padamu.”
“Aku? Kenapa aku? Aku tidak berpikir untuk melombakan karya-karya ku.”
“Kenapa tidak? Kehormatan adalah milikmu andai kan kau berhasil. Dan tidak sedikitpun kau rugi andaikan langit dan surga tidak berpihak padamu.”
“Benarkah? Tapi aku sama sekali tidak pernah membacakan karya-karya ku di depan khalayak ramai”
“Kau tidak perlu membaca, yang kau perlukan hanya menulis. Semudah itu saja!”
“Benarkah?”

Tidak lama setelah mendengar kabar itu, segera ku segerakan langka ini hingga sampai di pondok yang sederhana. Aku mulai mencoba menulis. Aku menulis dua puisi. Sungguh di luar kebiasaan aku bisa menulis lebih dari satu puisi dalam satu hari.

“Hanya ini yang bisa aku tulis, tidak lebih untuk sepenuh hatiku”
“Tidak apa apa. Tunggu… ini sangat menarik! aku yakin para petinggi yang menjadi penilai akan menyukainya.”
“Aku tidak yakin.. tapi aku percayakan semua padamu seperti kau percaya aku kan menyambut kabar darimu kemarin, terima kasih.”

Pada akhirnya, akulah yang mendapat kehormatan sebagai penyair terbaik di seantero kerajaan, dan tidak pernah sedikitpun aku melupakan jasa peri mungil itu.

Namun sayangnya, kalau ku boleh meyesal, pada saat puisi kehormatan itu dibacakan.. aku tidak bisa bersamanya menikmati puisi itu di bacakan biduan di muka umum. Karena aku harus menemani seorang putri dari kerajaan tetangga yang yang kemudian, menjadi kekasihku setelah perjodohan itu.

Peri mungil. Tanpamu dan kabar baik yang kau sampaikan padaku, aku mungkin hanya seorang petani biasa dan tidak akan pernah menjadi penyair kehormatan kerajaan. Terima kasih. Aku harap kau mendengar ini, walau ku tak sanggup mengatakan pada hati yang terluka.

Peri Hutan berlarian kecil di atas permadani sirkus tanpa alas kaki. di sekelilingnya penghuni Sirkus Borgetti sedang sibuk berlatih, mempersiapkan atraksi mereka untuk acara akbar nanti malam. sesekali ia berjingkat-jingkat sambil bersiul atau bersenandung riang. hatinya terasa seringan langkah kakinya.

“Halo Peri Hutan! Apa kabar?” seru Badut Perut Bola sambil membetulkan hidung bola palsu berwarna merahnya.
“Baik, Badut Perut Bola!” balas Peri Hutan tersenyum manis sambil melambaikan tangannya pada badut yang terkenal dengan atraksi sepeda roda satunya itu.
Peri Hutan kembali berlarian kecil. sumringah sambil merentangkan kedua tangannya, mencoba memeluk matahari pagi, yang menyembul lewat sela-sela atap yang terbuat dari terpal.
“DWOOORRRR!!!!” teriak Kurcaci Semar Bogel tepat di telinga kanan Peri Hutan. kurcaci yang mirip tokoh wayang Semar ini memang bertubuh bogel. dan di Sirkus Borgetti, ia memang yang paling sering menjahili Peri Hutan.
“Kurcaci Semar Bogel!! Kau mengagetkanku saja!” keluh Peri Hutan sambil bersungut-sungut. jantungnya serasa mau copot. tapi Peri Hutan tak terlalu berlama-lama menenangkan diri. ia langsung berlarian kecil lagi, meninggalkan Kurcaci Semar Bogel yang tertawa terkekeh-kekeh dan menyusuri setiap sudut Sirkus Borgetti yang raksasa.
“Ehehe, Peri Hutan… Manis sekali dirimu pagi ini, ehehe…” gumam Kurcaci Mata Jereng sambil tersipu-sipu malu. ia lalu menyodorkan sekuntum bunga edelweiss kuning yang baru dipetiknya ke depan batang hidung Peri Hutan, sambil membetulkan kacamatanya dengan gugup.
“Waaaawwww, bunga edelweiss kuning! Terima kasih Kurcaci Mata Jereng, aku suka sekali!” seru Peri Hutan sambil berjinjit mengecup pipi kiri Kurcaci Mata Jereng.
Peri Hutan kemudian melanjutkan lari-lari kecilnya di sepanjang permadani warna-warni dengan corak Timur Tengah, sambil bersiul-siul lagu “Close To You” milik The Carpenters. meninggalkan Kurcaci Mata Jereng yang bersemu merah.
“Peri Hutan!” tiba-tiba terdengar suara Kurcaci Hijau memanggilnya dari belakang.
“Ya?” Peri Hutan menoleh dengan mata berbinar-binar, girang Kurcaci Hijau favoritnya memanggil.
tiba-tiba di depan wajahnya sudah ada tiga permen bulat warna-warni yang sebesar kepalanya.
“Ini untukmu, Peri Hutan…” seru Kurcaci Hijau.
“Huaaaaa….. Sebanyak ini???” tanya Peri Hutan megap-megap seperti kehabisan napas.
“Jika kau bisa menghabiskan ketiga permen ini dalam waktu tiga jam saja,” ujar Kurcaci Hijau sambil mengedipkan matanya.
“Bisa…bisaaa!!!!” ujar Peri Hutan, merentangkan tangannya untuk menyambut tiga permen bulat besar yang masih berada di genggaman Kurcaci Hijau yang bertubuh tinggi dan tegap. matanya ia pasang sebesar-besarnya, biar terlihat meyakinkan di depan si Kurcaci Hijau. padahal semua orang juga sudah tahu, kemampuannya yang tadi sudah maksimal.
“Hmmm… Ah untukmu dua saja deh!” goda si Kurcaci Hijau sambil menyembunyikan satu permen bulat warna-warni itu di balik punggungnya.
Peri Hutan kecewa sambil merajuk. melihat hal tersebut, kejahilan Kurcaci Hijau makin menjadi-jadi.
“Atau satu saja, ah! Hehehe…” katanya sambil buru-buru menghilang dari hadapan Peri Hutan. takut disambit oleh si peri sipit.
Peri Hutan tak berlama-lama kecewa. ia cukup puas dengan sebuah permen bulat besar warna-warni yang kini berada di genggaman kanannya. berpadu dengan bunga edelweiss kuning di tangan kirinya. hatinya semakin penuh.
“Halo Bibi Mollymimi! Selamat pagi!!!” seru Peri Hutan pada perempuan yang bertugas mengantarkan kostum para pemain sirkus ke binatu. ia memang tidak terlalu mengenal perempuan itu. tapi hari yang cerah ini rasanya belum lengkap kalau ia tidak menyapa semua orang yang ia jumpai.
“Selamat pagi! Aduh, kamu lucu sekali… Siapa namamu?” tanya Mollymimi yang segera menghentikan pekerjaannya karena disapa oleh Peri Hutan.
“Aku Peri Hutan, Bibi Mollymimi…” jawab Peri Hutan sambil tersenyum.
“Ah ya, ya… Peri Hutan. Selamat bersenang-senang, Peri Hutan yang manis. Dah…” ujar Mollymimi sambil melambaikan tangannya. melihat Peri Hutan, ia jadi teringat pada anak gadisnya yang sudah meninggal. hal ini membuatnya tanpa sadar menitikkan air mata, yang diam-diam ia hapus dengan ujung lengan bajunya.

Peri Hutan melanjutkan berlarian kecil di atas permadani sirkus tanpa alas kaki. masih dengan bunga edelweiss di tangan kiri dan permen bulat besar warna-warni di tangan kanan. hari ini ia mencintai semua yang ditemuinya, sebagaimana dirinya dicintai oleh Alam Semesta.


belakangan mendung selalu menghiasi raut wajah si Peri Hutan yang manis. terkadang hidup ini bisa terasa sangat panjang dan membosankan ketika yang kita kerjakan hanya membunuh waktu setiap saat.

seperti sekarang, Peri Hutan sebenarnya tak mengerti apa yang membuat ia berjongkok di halaman depan rumah pohonnya, mencungkili tanah. yang ia tahu, ia melakukannya untuk menanam bibit bunga matahari yang barusan diberikan oleh si Serpina Sipirili. hanya supaya bibit itu tak sia-sia dan jadi berjamur disimpan di udara yang lembap akibat hujan terus-menerus di siang hari. untuk apa, ia tak terlalu mau tahu dan peduli.

Peri Hutan yang sedang asyik sendiri dengan sekop, cungkilan tanah, dan bibit bunga mataharinya terkejut bukan kepalang tatkala mendongak dan melihat toples berisi separuh hatinya, yang dulu ia titipkan pada Madame Lovètti, tersodor persis di depan batang hidungnya. sambil masih tetap berjongkok, ia memiringkan kepalanya ke kiri untuk melihat siapa yang membawa pulang separuh hatinya itu. persis seperti yang ia harapkan. dan Peri Hutan tersenyum lebar sambil memicingkan matanya, berusaha melawan sinar matahari yang beradu penampakan dengan penyelamat hatinya itu. puas dan penuh hatinya hari ini.

menit berikutnya ia sudah berada di padang ilalang bersama hati barunya. berbaring menikmati angin semilir, seperti sedia kala, dengan dirinya mendekap separuh hatinya di dadanya.

“Peri Hutan, lain waktu kupinjam kembali separuh hatimu, yah…” pinta si hati baru yang juga berbaring tepat di sebelah Peri Hutan. dalam hitungan detik, ia takkan menyangka kali ini Peri Hutan yang akan menyodorkan permainan padanya. menggantikan permainan layang-layang, gasing berputar, petak-umpet, dan tebak-tebakan yang dulu biasa mereka mainkan.

“Tidak bisa. Tidak semudah itu kau bisa mendapatkan separuh hatiku kembali. Kalau kau memang benar-benar menginginkannya, apa yang akan kau lakukan untukku?” tanya Peri Hutan dengan senyum licik, dihiasi oleh mata bulatnya yang berbinar-binar seperti kanak-kanak. gembira dan bersemangat karena permainan baru yang menarik.

“Aku… takkan mengganggu kehidupanmu selama setahun,” jawab si hati baru sambil tersenyum dan menatap Peri Hutan tajam. permainan yang menarik selalu memacu jantungnya berdegup lebih kencang. dan kali ini tantangannya jauh lebih menarik daripada apapun yang ada di dunia, termasuk kehidupan itu sendiri.

“Baiklah. Aku akan menunggumu di padang ilalang ini tepat satu tahun dari sekarang. Pada saat itu akan kupinjamkan lagi separuh hatiku padamu,” balas Peri Hutan seraya menatap si hati barunya itu lekat-lekat. puas dengan jawaban si hati baru.

“Sampai jumpa, Peri Hutan! Aku pasti akan kembali mengambil separuh hatimu. Tunggu saja…” seru si hati baru bergairah sambil beranjak pergi, meninggalkan Peri Hutan yang masih berbaring mendekap separuh hatinya di dalam toples, sambil tersenyum dengan mata terpejam. menikmati sinar matahari yang berpadu dengan semilir angin. sekaligus meresapi kehadiran hati barunya yang datang membawakan toples berisi separuh hatinya, untuk kemudian pergi lagi dengan tak lupa meninggalkan segudang harapan buat masa depan.

“He offers a handshake. Crooked, five fingers. They form a pattern. Yet to be matched
On the surface simplicity. Swirling black lilies totally ripe. But the darkest pit in me.
It’s pagan poetry. Pagan poetry
Morsecoding signals. They pulsate and wake me up from my hibernate
….
I love him, I love him
….
This time I’m gonna keep me to myself. This time I’m gonna keep my all to myself
(She loves him, she loves him)
And he makes me want to hand myself over”
[Pagan PoetryBjörk (Vespertine)]

Made a meal and threw it up on Sunday
I’ve got a lot of things to learn.
Said I would and I’ll be leaving one day
before my heart starts to burn


Peri Hutan kedatangan hati barunya di hutan bunga matahari. hati barunya yang telah lama menghilang, kini muncul di depan pintu rumah pohonnya di saat subuh, di mana orang-orang masih meringkuk di balik selimut dan ngelindur, dan embun pagi masih menempel lekat di daun, sama halnya dengan belek dan iler yang masih lekat menempel di mata dan bantal. dan Peri Hutan mengucek-ngucek matanya, tak percaya akan kunjungan tiba-tiba ini.
So what’s the matter with you?
Sing me something new…don’t you know
The cold and wind and rain don’t know
They only seem to come and go away
semua perasaannya bercampur aduk, berbaur jadi satu. Peri Hutan sampai tak tahu lagi bagian mana yang lebih besar daripada yang lainnya. rasanya ingin sekali mendamprat, “kenapa baru datang sekarang??!!!” atau “tak pedulikah kau waktu itu aku nyaris mati tersungkur dari ayunan reyotku???!!!” tapi saat ini perasaan hatinya sudah tak karuan, jadi ia tak mau tambah merusaknya dengan berbuat hal-hal yang bodoh. maka alih-alih mendamprat si hati baru, ia hanya berkata datar, “tunggu sebentar, kuambil dulu jaketku.”
Times are hard when things have got no meaning i’ve
I’ve found a key upon the floor
Maybe you and I will not believe in
the thing we find behind the door

Peri Hutan dan hati barunya berjalan menyusuri jalan setapak dalam gelap dan diam. sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Peri Hutan sibuk menerka-nerka maksud kedatangan si hati baru dan mengenang-ngenang keadaan di masa lalu yang terasa jauh lebih baik dibandingkan sekarang. sedangkan si hati baru entah sibuk memikirkan apa. mungkin sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dimilikinya untuk menaklukkan dunia. atau bagaimana caranya menjadi seorang superhero, menggantikan Superman.
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows
Yeah, nobody knows the way it’s gonna be

tak berapa lama, mereka sampai di padang ilalang, tempat di mana mereka dulu biasa menghabiskan sore dengan duduk-duduk dan menonton sepotong senja yang lewat. hanya saja kali ini tanpa kambing-kambing ceking yang menemani. “Peri Hutan, apa perbedaan jenggot dan janggut?” tanya si hati baru.
If you’re leaving will you take me with you?
I’m tired of talking on my phone
There is one thing I can never give you
My heart will never be your home
cukup sudah. permainan macam apa lagi yang akan ia dan hati barunya itu mainkan? Peri Hutan sudah capek meladeni permainan layang-layang, gasing berputar, petak-umpet, dan tebak-tebakan yang disodorkan oleh si hati baru. harus berapa karung keegoisan dan gengsi lagi yang ia dan hati barunya beli untuk memporak-porandakan semua yang selama ini mereka pikir mereka miliki?
So what’s the matter with you?
Sing me something new…don’t you know
The cold and wind and rain don’t know
They only seem to come and go away

jika semuanya memang selalu datang dan pergi buat Peri Hutan, mengapa bukan ia saja yang pergi kali ini? toh sepertinya pengorbanan bukan jalan yang ia dan hati barunya pilih untuk saat ini.
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows
Yeah, nobody knows the way it’s gonna be
The way it’s gonna be, yeah
Baby I can see, yeah

dan Peri Hutan berlari menyusuri jalan setapak yang gelap dan dingin, meninggalkan hati barunya yang masih menunggu jawaban apa bedanya jenggot dan janggut dari Peri Hutan di padang ilalang, sebelum malam benar-benar turun menyingkap air matanya yang berderai.
[*] Stand By Me – Oasis (Be Here Now)
***
Aku tak pernah ingin menyerah
Tapi masihkah berarti kalau kalah?
Waktu menyiram tubuh
Darah pun menjadi putih
Aku tahu saat untuk pasrah
meski jauh di dalam tanah,
kulambai dirimu dengan pedih