Peri Hutan berlarian kecil di atas permadani sirkus tanpa alas kaki. di sekelilingnya penghuni Sirkus Borgetti sedang sibuk berlatih, mempersiapkan atraksi mereka untuk acara akbar nanti malam. sesekali ia berjingkat-jingkat sambil bersiul atau bersenandung riang. hatinya terasa seringan langkah kakinya.

“Halo Peri Hutan! Apa kabar?” seru Badut Perut Bola sambil membetulkan hidung bola palsu berwarna merahnya.
“Baik, Badut Perut Bola!” balas Peri Hutan tersenyum manis sambil melambaikan tangannya pada badut yang terkenal dengan atraksi sepeda roda satunya itu.
Peri Hutan kembali berlarian kecil. sumringah sambil merentangkan kedua tangannya, mencoba memeluk matahari pagi, yang menyembul lewat sela-sela atap yang terbuat dari terpal.
“DWOOORRRR!!!!” teriak Kurcaci Semar Bogel tepat di telinga kanan Peri Hutan. kurcaci yang mirip tokoh wayang Semar ini memang bertubuh bogel. dan di Sirkus Borgetti, ia memang yang paling sering menjahili Peri Hutan.
“Kurcaci Semar Bogel!! Kau mengagetkanku saja!” keluh Peri Hutan sambil bersungut-sungut. jantungnya serasa mau copot. tapi Peri Hutan tak terlalu berlama-lama menenangkan diri. ia langsung berlarian kecil lagi, meninggalkan Kurcaci Semar Bogel yang tertawa terkekeh-kekeh dan menyusuri setiap sudut Sirkus Borgetti yang raksasa.
“Ehehe, Peri Hutan… Manis sekali dirimu pagi ini, ehehe…” gumam Kurcaci Mata Jereng sambil tersipu-sipu malu. ia lalu menyodorkan sekuntum bunga edelweiss kuning yang baru dipetiknya ke depan batang hidung Peri Hutan, sambil membetulkan kacamatanya dengan gugup.
“Waaaawwww, bunga edelweiss kuning! Terima kasih Kurcaci Mata Jereng, aku suka sekali!” seru Peri Hutan sambil berjinjit mengecup pipi kiri Kurcaci Mata Jereng.
Peri Hutan kemudian melanjutkan lari-lari kecilnya di sepanjang permadani warna-warni dengan corak Timur Tengah, sambil bersiul-siul lagu “Close To You” milik The Carpenters. meninggalkan Kurcaci Mata Jereng yang bersemu merah.
“Peri Hutan!” tiba-tiba terdengar suara Kurcaci Hijau memanggilnya dari belakang.
“Ya?” Peri Hutan menoleh dengan mata berbinar-binar, girang Kurcaci Hijau favoritnya memanggil.
tiba-tiba di depan wajahnya sudah ada tiga permen bulat warna-warni yang sebesar kepalanya.
“Ini untukmu, Peri Hutan…” seru Kurcaci Hijau.
“Huaaaaa….. Sebanyak ini???” tanya Peri Hutan megap-megap seperti kehabisan napas.
“Jika kau bisa menghabiskan ketiga permen ini dalam waktu tiga jam saja,” ujar Kurcaci Hijau sambil mengedipkan matanya.
“Bisa…bisaaa!!!!” ujar Peri Hutan, merentangkan tangannya untuk menyambut tiga permen bulat besar yang masih berada di genggaman Kurcaci Hijau yang bertubuh tinggi dan tegap. matanya ia pasang sebesar-besarnya, biar terlihat meyakinkan di depan si Kurcaci Hijau. padahal semua orang juga sudah tahu, kemampuannya yang tadi sudah maksimal.
“Hmmm… Ah untukmu dua saja deh!” goda si Kurcaci Hijau sambil menyembunyikan satu permen bulat warna-warni itu di balik punggungnya.
Peri Hutan kecewa sambil merajuk. melihat hal tersebut, kejahilan Kurcaci Hijau makin menjadi-jadi.
“Atau satu saja, ah! Hehehe…” katanya sambil buru-buru menghilang dari hadapan Peri Hutan. takut disambit oleh si peri sipit.
Peri Hutan tak berlama-lama kecewa. ia cukup puas dengan sebuah permen bulat besar warna-warni yang kini berada di genggaman kanannya. berpadu dengan bunga edelweiss kuning di tangan kirinya. hatinya semakin penuh.
“Halo Bibi Mollymimi! Selamat pagi!!!” seru Peri Hutan pada perempuan yang bertugas mengantarkan kostum para pemain sirkus ke binatu. ia memang tidak terlalu mengenal perempuan itu. tapi hari yang cerah ini rasanya belum lengkap kalau ia tidak menyapa semua orang yang ia jumpai.
“Selamat pagi! Aduh, kamu lucu sekali… Siapa namamu?” tanya Mollymimi yang segera menghentikan pekerjaannya karena disapa oleh Peri Hutan.
“Aku Peri Hutan, Bibi Mollymimi…” jawab Peri Hutan sambil tersenyum.
“Ah ya, ya… Peri Hutan. Selamat bersenang-senang, Peri Hutan yang manis. Dah…” ujar Mollymimi sambil melambaikan tangannya. melihat Peri Hutan, ia jadi teringat pada anak gadisnya yang sudah meninggal. hal ini membuatnya tanpa sadar menitikkan air mata, yang diam-diam ia hapus dengan ujung lengan bajunya.

Peri Hutan melanjutkan berlarian kecil di atas permadani sirkus tanpa alas kaki. masih dengan bunga edelweiss di tangan kiri dan permen bulat besar warna-warni di tangan kanan. hari ini ia mencintai semua yang ditemuinya, sebagaimana dirinya dicintai oleh Alam Semesta.

Iklan