Peri mungil itu mendatangiku sambil tersenyum dan melambai. Aku balas lambaiannya. Sudah bisa terbaca… dari matanya yang berbinar, ia membawa kabar gembira yang tidak lama terlontar dari mulutnya yang manis. Dia berbicara, sambil menatapku dengan serius.

“Ada apakah gerangan?”
“Tidakkan kau mendengar kabar wahai temanku, seruan sayembara pembuatan puisi bagi seluruh penghuni istana?”
“Aku tidak tahu…”
“Karena itu aku datang untuk menyampaikannya padamu.”
“Aku? Kenapa aku? Aku tidak berpikir untuk melombakan karya-karya ku.”
“Kenapa tidak? Kehormatan adalah milikmu andai kan kau berhasil. Dan tidak sedikitpun kau rugi andaikan langit dan surga tidak berpihak padamu.”
“Benarkah? Tapi aku sama sekali tidak pernah membacakan karya-karya ku di depan khalayak ramai”
“Kau tidak perlu membaca, yang kau perlukan hanya menulis. Semudah itu saja!”
“Benarkah?”

Tidak lama setelah mendengar kabar itu, segera ku segerakan langka ini hingga sampai di pondok yang sederhana. Aku mulai mencoba menulis. Aku menulis dua puisi. Sungguh di luar kebiasaan aku bisa menulis lebih dari satu puisi dalam satu hari.

“Hanya ini yang bisa aku tulis, tidak lebih untuk sepenuh hatiku”
“Tidak apa apa. Tunggu… ini sangat menarik! aku yakin para petinggi yang menjadi penilai akan menyukainya.”
“Aku tidak yakin.. tapi aku percayakan semua padamu seperti kau percaya aku kan menyambut kabar darimu kemarin, terima kasih.”

Pada akhirnya, akulah yang mendapat kehormatan sebagai penyair terbaik di seantero kerajaan, dan tidak pernah sedikitpun aku melupakan jasa peri mungil itu.

Namun sayangnya, kalau ku boleh meyesal, pada saat puisi kehormatan itu dibacakan.. aku tidak bisa bersamanya menikmati puisi itu di bacakan biduan di muka umum. Karena aku harus menemani seorang putri dari kerajaan tetangga yang yang kemudian, menjadi kekasihku setelah perjodohan itu.

Peri mungil. Tanpamu dan kabar baik yang kau sampaikan padaku, aku mungkin hanya seorang petani biasa dan tidak akan pernah menjadi penyair kehormatan kerajaan. Terima kasih. Aku harap kau mendengar ini, walau ku tak sanggup mengatakan pada hati yang terluka.

Iklan