Archive for Mei, 2011


Di sebuah desa hiduplah seorang anak perempuan yang lugu. Sheila namanya. Ia senang sekali bermain di tepi hutan. Ibunya selalu mengingatkannya agar tak terlalu jauh masuk ke hutan. Penduduk desa itu percaya, orang yang terlalu jauh masuk ke hutan, tak akan pernah kembali. Bagian dalam hutan itu diselubungi kabut tebal. Tak seorang pun dapat menemukan jalan pulang jika sudah tersesat.

Sheila selalu mengingat pesan ibunya. Namun ia juga penasaran ingin mengetahui daerah berkabut itu. Setiap kali pergi bermain, ibu Sheila selalu membekalinya dengan sekantong kue, permen, coklat, dan sebotol jus buah. Sheila sering datang ke tempat perbatasan kabut di hutan. Ia duduk di bawah pohon dan menikmati bekalnya di sana. Sheila ingin sekali melangkahkan kakinya ke dalam daerah berkabut itu. Namun ia takut.

Suatu kali, seperti biasa Sheila datang ke daerah perbatasan kabut. Seperti biasa ia duduk menikmati bekalnya. Tiba-tiba Sheila merasa ada beberapa pasang mata memperhatikannya. Ia mengarahkan pandangan ke sekeliling untuk mencari tahu. Namun Sheila tak menemukan siapa-siapa. “Hei! Siapa pun itu, keluarlah! Jika kalian mau, kalian dapat makan kue bersamaku,” teriak Sheila penasaran.

Mendengar tawaran Sheila, beberapa makhluk memberanikan diri muncul di depan Sheila. Tampak tiga peri di hadapan Sheila. Tubuh mereka hanya separuh tinggi badan Sheila. Di punggungnya ada sayap. Telinga mereka berujung lancip. Dengan takut-takut mereka menghampiri Sheila. Anak kecil pemberani itu tanpa ragu-ragu menyodorkan bekalnya untuk dimakan bersama-sama. Peri-peri itu bernama Pio, Plea, dan Plop. Ketiga peri itu kakak beradik.

Sejak saat itu Sheila dan ketiga kawan barunya sering makan bekal bersama-sama. Kadang mereka saling bertukar bekal. Suatu hari Sheila bertanya kepada ketiga temannya, “Pio, Plea, Plop. Mengapa ada daerah berkabut di hutan ini? Apa isinya? Dan mengapa tak ada yang pernah kembali? Kalian tinggal di hutan sebelah mana?” tanya Sheila penuh ingin tahu. Mendengar pertanyaan Sheila ketiga peri itu saling bertukar pandang. Mereka tahu jawabannya namun ragu untuk memberi tahu Sheila. Setelah berpikir sejenak, akhirnya mereka memberitahu rahasia hutan berkabut yang hanya diketahui para peri.


“Para peri tinggal di balik hutan berkabut. Termasuk kami. Kabut itu adalah pelindung agar tak seorang pun dapat masuk ke wilayah kami tanpa izin. Kami tiga bersaudara adalah peri penjaga daerah berkabut. Jika kabut menipis, kami akan meniupkannya lagi banyak-banyak. Jika ada tamu yang tak diundang masuk ke wilayah kami, kami segera membuatnya tersesat,” jelas Pio, Plea, Plop.

Sheila terkagum-kagum mendengarnya. “Bisakah aku datang ke negeri kalian suatu waktu?” tanya Sheila berharap. Ketiga peri itu berembuk sejenak. “Baiklah. Kami akan mengusahakannya,” kata mereka. Tak lama kemudian Sheila diajak Pio, Plea dan Plop ke negeri mereka. Hari itu Sheila membawa kue, coklat, dan permen banyak-banyak. Sebelumnya, Sheila didandani seperti peri oleh ketiga temannya. Itu supaya mereka bisa mengelabui para peri lain. Sebenarnya manusia dilarang masuk ke wilayah peri. Ketiga teman Sheila ini juga memberi kacamata khusus pada Sheila. Dengan kacamata itu Sheila dapat melihat dengan jelas.

Daerah berkabut penuh dengan berbagai tumbuhan penyesat. Berbagai jalan yang berbeda nampak sama. Jika tidak hati-hati maka akan tersesat dan berputar-putar di tempat yang sama. Dengan bimbingan Pio, Plea, dan Plop akhirnya mereka semua sampai ke negeri peri. Di sana rumah tampak mungil. Bentuknya pun aneh-aneh. Ada rumah berbentuk jamur, berbentuk sepatu, bahkan ada yang berbentuk teko. Pakaian mereka seperti kostum untuk karnaval. Kegiatan para peri pun bermacam-macam. Ada yang mengumpulkan madu, bernyanyi, membuat baju dari kelopak bunga… Semua tampak riang gembira.

Sheila sangat senang. Ia diperkenalkan kepada anak peri lainnya. Mereka sangat terkejut mengetahui Sheila adalah manusia. Namun mereka senang dapat bertemu dan berjanji tak akan memberi tahu ratu peri. Rupanya mereka pun ingin tahu tentang manusia. Mereka bermain gembira. Sheila dan para anak peri berkejar-kejaran, bernyanyi, bercerita dan tertawa keras-keras. Mereka juga saling bertukar makanan. Pokoknya hari itu menyenangkan sekali.

Tiba-tiba ratu peri datang. “Siapa itu?” tanyanya penuh selidik. “Ratu, dia adalah teman hamba dari hutan utara,” jawab Plop takut. Ia terpaksa berbohong agar Sheila tak ketahuan. Ratu peri memperhatikan Sheila dari ujung rambut sampai ujung kaki. Setelah itu ia pergi. Sheila bermain lagi dengan lincah. Namun sayang ia terpeleset. Sheila jatuh terjerembab. Ketika itu cuping telinga palsunya copot. Ratu peri melihat hal itu. Ia amat marah.
“Manusia! Bagaimana ia bisa sampai kemari? Siapa yang membawanya?” teriaknya mengelegar. Pio, Plea, dan Plop maju ke depan dengan gemetar. “Kami, Ratu,” jawab mereka gugup. “Ini pelanggaran. Jika ada manusia yang tahu tempat ini, maka tempat ini tidak aman lagi. Kalian harus dihukum berat,” teriak ratu peri marah. Sheila yang saat itu juga ketakutan memberikan diri maju ke depan. “Mereka tidak bersalah, Ratu. Akulah yang memaksa mereka untuk membawaku kemari.” “Kalau begitu, kau harus dihukum menggantikan mereka!” gelegar ratu peri.

Sheila dimasukkan ke dalam bak air tertutup. Ia akan direbus setengah jam. Namun ketika api sudah dinyalakan ia tidak merasa panas sedikit pun. “Keluarlah! Kau lulus ujian, ” kata ratu peri. Ternyata kebaikan hati Sheila membuat ia lolos dari hukuman. Ia diperbolehkan pulang dan teman perinya bebas hukuman. Ratu peri membuat Sheila mengantuk dan tertidur. Ia menghapus ingatan Sheila tentang negeri peri. Namun ia masih menyisakannya sedikit agar Sheila dapat mengingatnya di dalam mimpi. Ketika terbangun, Sheila berada di kasur kesayangannya.

Dahulu ada orang yang bernama Mahomet, yang hidup sebagai nelayan dengan menangkap ikan dan menjualnya. Suatu hari dia menderita sakit keras dan tidak mempunyai harapan lagi untuk sembuh, hingga sebelum dia meninggal, dia berpesan kepada istrinya bahwa istrinya harus tidak pernah membuka rahasia kepada anak laki-laki satu-satunya yang saat itu masih sangat kecil bahwa selama ini mereka hidup dari hasil penjualan ikan.

Ketika nelayan itu meninggal dan waktu terus berlalu hingga anaknya beranjak dewasa dan mulai berpikir untuk mendapatkan pekerjaan. Dia telah mencoba banyak hal, tetapi dia tidak pernah berhasil. Setelah ibunya juga meninggal, anak itu akhirnya menjadi sendirian dan hidup dalam kemiskinan, tanpa makanan dan uang. Suatu hari dia masuk ke gudang rumahnya, berharap bahwa dia akan menemukan sesuatu untuk dijual.

Dalam pencariannya, dia menemukan jala ayahnya. Dengan melihat jala ini, dia akhirnya sadar bahwa semasa muda, ayahnya adalah seorang nelayan. Lalu dia mengambil jala itu keluar dan pergi ke laut untuk menangkap ikan. Karena kurang terlatih, dia hanya dapat menangkap dua buah ikan, dimana yang satu dijualnya untuk membeli roti dan kayu bakar. Ikan yang satunya lagi dimasak dengan kayu bakar yang dibelinya tadi, dan dimakannya, saat itu dia memutuskan untuk menjadi nelayan.

Suatu hari dia menangkap seekor ikan yang sangat cantik sehingga dia tidak rela untuk menjual atau memakannya sendiri. Dia lalu membawanya pulang ke rumah, menggali sebuah sumur kecil, dan menempatkan ikan tersebut disana. Kemudian dia lalu tidur karena kelelahan dan kelaparan dan berharap bahwa keesokan harinya dia dapat bangun lebih pagi dan menangkap ikan yang lebih banyak.

Keesokan hari, saat pergi menangkap ikan dan pulang di malam hari, dia mendapati rumahnya menjadi sangat bersih dan telah di sapu selama dia tidak berada di sana. Dia menyangka bahwa tetangganya datang dan membersihkan rumahnya, dan atas kebaikan tetangganya membersihkan rumahnya, dia berdoa agar tetangganya tersebut mendapat berkah dari Tuhan.

Keesokan harinya, dia bangun seperti biasa, dengan gembira dia menengok ikannya yang ada di sumur kecil dan pergi untuk bekerja lagi. Pada saat pulang di malam hari, dia kembali menemukan bahwa rumahnya menjadi bersih dan rapih. Kemudian dia menghibur dirinya sendiri dengan memandangi ikannya, lalu pergi ke kedai dimana disana dia berpikir, siapa kira-kira yang telah merapihkan rumahnya. Saat sedang berpikir, salah seorang temannya bertanya, apa yang dipikirkannya. Dan anak nelayan tersebut menceritakan semua kisahnya. Akhirnya temannya berkata bahwa dia harus mengunci rumahnya sebelum berangkat dan membawa kuncinya, hingga tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam.

Anak nelayan dan Peri IkanAnak nelayan tersebut akhrnya pulang ke rumah, dan keesokan harinya, dia pura-pura akan keluar bekerja. Dia membuka pintu dan menutupnya kembali, kemudian dia bersembunyi di dalam rumah. Saat itu juga dia melihat ikannya meloncat keluar dari sumur dan menggoyangkan dirinya, berubah menjadi besar dan akhirnya kulit ikan menjadi terkelupas dan anak nelayan tersebut melihat seorang wanita yang sangat cantik jelita. Dengan cepat anak nelayan itu mengambil kulit ikan yang terkelupas tadi dan membuangnya ke dalam perapian.

“Kamu seharusnya tidak melakukan hal itu,” kata wanita itu, “Tapi apa boleh buat, yang terjadi biarlah terjadi dan tidak usah dipermasalahkan lagi.”

Setelah terbebas, wanita tersebut dilamar oleh si anak nelayan dan wanita tersebut menyetujui lamarannya, segala persediaan telah di buat untuk pernikahan mereka. Semua yang melihat wanita itu menjadi kagum dan terpana oleh kecantikannya dan mereka berbisik-bisik bahwa wanita tersebut lebih pantas menjadi pengantin seorang Padishah (Sultan). Kabar ini dengan cepat menyebar ke telinga Padishah, lalu Padishah memerintahkan agar wanita tersebut di bawa ke hadapannya. Saat Padishah melihat wanita yang sangat cantik jelita itu, dia langsung jatuh cinta, dan bertujuan untuk menikahinya.

Karena itu dia menemui anak nelayan tersebut dan berkata “Jika dalam empat-puluh hari kamu bisa membangunkan saya istana dari emas dan permata di tengah-tengah lautan, saya tidak akan mengambil wanita yang akan kamu nikahi itu, tetapi apabila kamu gaga, saya akan mengambilnya dan membawanya pergi.” Lalu anak nelayan itu pulang ke rumah dengan hati sedih dan menangis. “Mengapa kamu menangis?” tanya wanita yang merupakan peri ikan itu. Anak nelayan tersebut lalu menceritakan apa yang diperintahkan oleh Padishah, tetapi wanita itu berkata dengan gembira: “Jangan menangis, kita bisa menyelesaikannya. Pergilah ke tempat dimana kamu pernah menangkap saya semasa menjadi ikan dan lemparkan sebuah batu ke tempat itu. Sesosok jin akan muncul dan mengucapkan kata ‘apa perintahmu?’ Katakan bahwa seorang wanita mengirimkan salam untuknya dan meminta sebuah bantal. Dia akan memberikannya dan lemparkan bantal tersebut ke laut dimana Padishah menginginkan istananya di bangun. Kemudian kembalilah ke rumah.”

Anak nelayan tersebut mengikuti semua petunjuk, dan pada hari berikutnya, ketika dia melihat ke depan dimana bantal tersebut dilemparkan dilaut, dia melihat sebuah istana yang lebih indah dari apa yang Padishah gambarkan dan minta. Dengan gembira mereka cepat-cepat menyampaikan ke istana bahwa tempat tersebut telah di bangun.

Padishah menjadi terkejut, tetapi karena tujuan Padishah sendiri bukanlah istana itu melainkan untuk memisahkan anak nelayan dengan wanita yang diidam-idamkannya, Padishah atau Sultan tersebut memberi perintah pada anak nelayan itu untuk membuatkan jembatan dari Kristal menuju ke istananya. Selanjutnya anak nelayan itu pulang dan menangis sedih kembali. Saat wanita yang sebenarnya adalah Peri Ikan tersebut melihatnya bersedih dan mendengarkan keluhan dari anak nelayan tersebut, dia berkata: “Pergilah ke tempat sesosok jin seperti sebelumnya, dan mintalah padanya sebuah bantal guling, Ketika kamu sudah mendapatkannya, buanglah ke tempat dimana istana itu berada.” Kemudian anak nelayan tersebut melakukan apa yang disuruhkan oleh calon istrinya dan begitu berbalik, dia melihat sebuah jembatan yang indah dari kristal. Dia kemudian menemui Padishah dan memberitahu bahwa tugasnya telah selesai.

Anak nelayan membalikkan penggilingan kopiPadishah merasa tidak puas kemudian memerintahkan anak nelayan itu menyiapkan perjamuan yang besar hingga seluruh penduduk dapat makan disana dan harus masih ada makanan yang tersisa. Seperti sebelumnya, anak nelayan itu pulang dan menceritakan hal itu kepada calon istrinya. Mendengar perintah dari Padishah kepada anak nelayan tersebut, dia berkata “Pergilah kembali ke tempat sesosok jin tadi, dan mintalah penggilingan kopi dari dia, tetapi hati-hatilah agar jangan sampai menumpahkannya dalam perjalanan.” Anak nelayan itu kemudian berhasil mengambil penggilingan kopi dari jin tanpa mengalami kesulitan. Tetapi saat membawanya pulang, dengan ceroboh dia menumpahkannya, hingga tujuh dari delapan piring terjatuh keluar dari penggilingan kopi. Dia lalu memungutnya dan membawanya pulang.

Pada hari yang telah ditentukan, semua penduduk yang harus datang menurut undangan dari Padishah, menuju ke rumah anak nelayan tersebut dan mengambil bagian dalam perjamuan besar tersebut. Walaupun semua tamu dapat makan sekenyang-kenyangnya, masih juga banyak makanan yang tersisa. Anak nelayan tersebut berhasil memenuhi tugasnya kembali.

Karena keras kepala, Padishah memerintahkan kembali anak nelayan itu untuk menghasilkan seekor keledai dari sebuah telur. Anak nelayan tersebut memberi tahu wanita calon istrinya itu, apa saja yang diperintahkan oleh Padishah, dan wanita tersebut memberi tahu dia bahwa dia harus memberikan tiga telur ke sosok Jin di tengah laut kemudian membawanya pulang kembali tanpa memecahkannya. Anak Nelayan kemudian melakukan apa yang disuruhkan oleh wanita itu, tetapi di tengah jalan pulang, dia menjatuhkan satu biji telur dan memecahkannya. Dari telur tersebut, meloncatlah keluar seekor keledai besar, yang akhirnya lari dan menceburkan dirinya ke laut sampai tidak kelihatan lagi.

Anak nelayan tersebut tiba di rumah dengan aman dan membawa dua buah telur yang tersisa. “Mana yang ketiga?” tanya wanita itu kepadanya. “Pecah di perjalanan,” katanya. “Kamu seharusnya lebih berhati-hati,” kata wanita itu, “tapi apa yang telah terjadi, biarlah terjadi.”

Anak nelayan dan keledaiKemudian anak nelayan membawa telur-telur itu ke Padishah, dan meminta agar dia diijinkan naik ke atas sebuah bangku untuk melemparkan telur tersebut di lantai. Padishah mengijinkannya dan anak nelayan tersebut lalu berdiri diatas bangku dan melemparkan telur ke lantai. Saat itu seekor keledai yang besar meloncat keluar dari telur yang pecah dan jatuh ke atas Padishah yang langsung mencoba menghindar untuk menyelamatkan diri. Anak nelayan itu kemudian menyelamatkan Padishah dari bahaya, dan keledai yang tadi lalu berlari keluar dan menceburkan dirinya ke dalam laut.

Dengan rasa putus asa, Padishah atau sultan tadi mencari-cari hal yang mustahil dan yang tidak mungkin dapat di kerjakan oleh anak nelayan. Dia lalu meminta agar anak nelayan tersebut membawakan dia anak bayi yang umurnya sehari tetapi sudah dapat berbicara dan berjalan.

Wanita calon istri anak nelayan kemudian menyuruh anak nelayan tersebut ke sesosok jin di tengah laut dan membawakan hadiah-hadiah dari wanita itu, dan memberitahunya bahwa dia berharap dapat melihat kemenakannya yang masih bayi. Anak nelayan itu kemudian pergi ke tengah laut dan memanggil sosok jin itu dan menyampaikan pesannya. Sosok Jin itu berkata, “Dia masih berumur beberapa jam, ibunya mungkin tidak mau memberikannya, tapi, tunggulah sebentar, saya akan mencoba menanyakannya.”

Bayi dan PadishahSingkat kata, jin tersebut pergi dan segera muncul kembali dengan bayi yang baru lahir ditangannya. Ketika anak nelayan tersebut melihat anak bayi itu, anak bayi itu berlari ke pangkuannya dan berkata “Kita akan ke bibi saya ya?” Anak nelayan mengiyakan dan membawa anak bayi itu ke rumah, dan ketika bayi tersebut melihat wanita itu, dia berteriak “Bibi!” dan memeluknya. Anak nelayan kemudian membawa bayi itu ke hadapan Padishah.

Saat bayi tersebut dibawa ke hadapan Padishah, bayi tersebut naik ke pangkuan Padishah dan memukul wajahnya, dan berkata: “Bagaimana mungkin orang dapat membangun istana dari emas dan permata dalam empat-puluh hari? membangun jembatan dari kristal juga dalam waktu yang sama? Bagaimana satu orang bisa memberi makan seluruh penduduk yang ada di kerajaan ini? Bagaimana mungkin keledai dapat dimunculkan dari sebuah telur?” setiap kalimat yang meluncur dari mulut sang bayi diiringi dengan tamparan keras ke wajah Padishah, hingga akhirnya Padishah berkata kepada anak nelayan bahwa dia boleh menikahi wanita itu bila dia dapat menjauhkan Padishah dari bayi yang menampari wajahnya terus menerus. Anak nelayan tersebut pulang sambil menggendong bayi itu ke rumah, kemudian menikahi wanita itu dan mengadakan pesta selama empat puluh hari empat puluh malam.

 Peri mungil itu mendatangiku sambil tersenyum dan melambai. Aku balas lambaiannya. Sudah bisa terbaca… dari matanya yang berbinar, ia membawa kabar gembira yang tidak lama terlontar dari mulutnya yang manis. Dia berbicara, sambil menatapku dengan serius.

“Ada apakah gerangan?”
“Tidakkan kau mendengar kabar wahai temanku, seruan sayembara pembuatan puisi bagi seluruh penghuni istana?”
“Aku tidak tahu…”
“Karena itu aku datang untuk menyampaikannya padamu.”
“Aku? Kenapa aku? Aku tidak berpikir untuk melombakan karya-karya ku.”
“Kenapa tidak? Kehormatan adalah milikmu andai kan kau berhasil. Dan tidak sedikitpun kau rugi andaikan langit dan surga tidak berpihak padamu.”
“Benarkah? Tapi aku sama sekali tidak pernah membacakan karya-karya ku di depan khalayak ramai”
“Kau tidak perlu membaca, yang kau perlukan hanya menulis. Semudah itu saja!”
“Benarkah?”

Tidak lama setelah mendengar kabar itu, segera ku segerakan langka ini hingga sampai di pondok yang sederhana. Aku mulai mencoba menulis. Aku menulis dua puisi. Sungguh di luar kebiasaan aku bisa menulis lebih dari satu puisi dalam satu hari.

“Hanya ini yang bisa aku tulis, tidak lebih untuk sepenuh hatiku”
“Tidak apa apa. Tunggu… ini sangat menarik! aku yakin para petinggi yang menjadi penilai akan menyukainya.”
“Aku tidak yakin.. tapi aku percayakan semua padamu seperti kau percaya aku kan menyambut kabar darimu kemarin, terima kasih.”

Pada akhirnya, akulah yang mendapat kehormatan sebagai penyair terbaik di seantero kerajaan, dan tidak pernah sedikitpun aku melupakan jasa peri mungil itu.

Namun sayangnya, kalau ku boleh meyesal, pada saat puisi kehormatan itu dibacakan.. aku tidak bisa bersamanya menikmati puisi itu di bacakan biduan di muka umum. Karena aku harus menemani seorang putri dari kerajaan tetangga yang yang kemudian, menjadi kekasihku setelah perjodohan itu.

Peri mungil. Tanpamu dan kabar baik yang kau sampaikan padaku, aku mungkin hanya seorang petani biasa dan tidak akan pernah menjadi penyair kehormatan kerajaan. Terima kasih. Aku harap kau mendengar ini, walau ku tak sanggup mengatakan pada hati yang terluka.

Peri Hutan berlarian kecil di atas permadani sirkus tanpa alas kaki. di sekelilingnya penghuni Sirkus Borgetti sedang sibuk berlatih, mempersiapkan atraksi mereka untuk acara akbar nanti malam. sesekali ia berjingkat-jingkat sambil bersiul atau bersenandung riang. hatinya terasa seringan langkah kakinya.

“Halo Peri Hutan! Apa kabar?” seru Badut Perut Bola sambil membetulkan hidung bola palsu berwarna merahnya.
“Baik, Badut Perut Bola!” balas Peri Hutan tersenyum manis sambil melambaikan tangannya pada badut yang terkenal dengan atraksi sepeda roda satunya itu.
Peri Hutan kembali berlarian kecil. sumringah sambil merentangkan kedua tangannya, mencoba memeluk matahari pagi, yang menyembul lewat sela-sela atap yang terbuat dari terpal.
“DWOOORRRR!!!!” teriak Kurcaci Semar Bogel tepat di telinga kanan Peri Hutan. kurcaci yang mirip tokoh wayang Semar ini memang bertubuh bogel. dan di Sirkus Borgetti, ia memang yang paling sering menjahili Peri Hutan.
“Kurcaci Semar Bogel!! Kau mengagetkanku saja!” keluh Peri Hutan sambil bersungut-sungut. jantungnya serasa mau copot. tapi Peri Hutan tak terlalu berlama-lama menenangkan diri. ia langsung berlarian kecil lagi, meninggalkan Kurcaci Semar Bogel yang tertawa terkekeh-kekeh dan menyusuri setiap sudut Sirkus Borgetti yang raksasa.
“Ehehe, Peri Hutan… Manis sekali dirimu pagi ini, ehehe…” gumam Kurcaci Mata Jereng sambil tersipu-sipu malu. ia lalu menyodorkan sekuntum bunga edelweiss kuning yang baru dipetiknya ke depan batang hidung Peri Hutan, sambil membetulkan kacamatanya dengan gugup.
“Waaaawwww, bunga edelweiss kuning! Terima kasih Kurcaci Mata Jereng, aku suka sekali!” seru Peri Hutan sambil berjinjit mengecup pipi kiri Kurcaci Mata Jereng.
Peri Hutan kemudian melanjutkan lari-lari kecilnya di sepanjang permadani warna-warni dengan corak Timur Tengah, sambil bersiul-siul lagu “Close To You” milik The Carpenters. meninggalkan Kurcaci Mata Jereng yang bersemu merah.
“Peri Hutan!” tiba-tiba terdengar suara Kurcaci Hijau memanggilnya dari belakang.
“Ya?” Peri Hutan menoleh dengan mata berbinar-binar, girang Kurcaci Hijau favoritnya memanggil.
tiba-tiba di depan wajahnya sudah ada tiga permen bulat warna-warni yang sebesar kepalanya.
“Ini untukmu, Peri Hutan…” seru Kurcaci Hijau.
“Huaaaaa….. Sebanyak ini???” tanya Peri Hutan megap-megap seperti kehabisan napas.
“Jika kau bisa menghabiskan ketiga permen ini dalam waktu tiga jam saja,” ujar Kurcaci Hijau sambil mengedipkan matanya.
“Bisa…bisaaa!!!!” ujar Peri Hutan, merentangkan tangannya untuk menyambut tiga permen bulat besar yang masih berada di genggaman Kurcaci Hijau yang bertubuh tinggi dan tegap. matanya ia pasang sebesar-besarnya, biar terlihat meyakinkan di depan si Kurcaci Hijau. padahal semua orang juga sudah tahu, kemampuannya yang tadi sudah maksimal.
“Hmmm… Ah untukmu dua saja deh!” goda si Kurcaci Hijau sambil menyembunyikan satu permen bulat warna-warni itu di balik punggungnya.
Peri Hutan kecewa sambil merajuk. melihat hal tersebut, kejahilan Kurcaci Hijau makin menjadi-jadi.
“Atau satu saja, ah! Hehehe…” katanya sambil buru-buru menghilang dari hadapan Peri Hutan. takut disambit oleh si peri sipit.
Peri Hutan tak berlama-lama kecewa. ia cukup puas dengan sebuah permen bulat besar warna-warni yang kini berada di genggaman kanannya. berpadu dengan bunga edelweiss kuning di tangan kirinya. hatinya semakin penuh.
“Halo Bibi Mollymimi! Selamat pagi!!!” seru Peri Hutan pada perempuan yang bertugas mengantarkan kostum para pemain sirkus ke binatu. ia memang tidak terlalu mengenal perempuan itu. tapi hari yang cerah ini rasanya belum lengkap kalau ia tidak menyapa semua orang yang ia jumpai.
“Selamat pagi! Aduh, kamu lucu sekali… Siapa namamu?” tanya Mollymimi yang segera menghentikan pekerjaannya karena disapa oleh Peri Hutan.
“Aku Peri Hutan, Bibi Mollymimi…” jawab Peri Hutan sambil tersenyum.
“Ah ya, ya… Peri Hutan. Selamat bersenang-senang, Peri Hutan yang manis. Dah…” ujar Mollymimi sambil melambaikan tangannya. melihat Peri Hutan, ia jadi teringat pada anak gadisnya yang sudah meninggal. hal ini membuatnya tanpa sadar menitikkan air mata, yang diam-diam ia hapus dengan ujung lengan bajunya.

Peri Hutan melanjutkan berlarian kecil di atas permadani sirkus tanpa alas kaki. masih dengan bunga edelweiss di tangan kiri dan permen bulat besar warna-warni di tangan kanan. hari ini ia mencintai semua yang ditemuinya, sebagaimana dirinya dicintai oleh Alam Semesta.


belakangan mendung selalu menghiasi raut wajah si Peri Hutan yang manis. terkadang hidup ini bisa terasa sangat panjang dan membosankan ketika yang kita kerjakan hanya membunuh waktu setiap saat.

seperti sekarang, Peri Hutan sebenarnya tak mengerti apa yang membuat ia berjongkok di halaman depan rumah pohonnya, mencungkili tanah. yang ia tahu, ia melakukannya untuk menanam bibit bunga matahari yang barusan diberikan oleh si Serpina Sipirili. hanya supaya bibit itu tak sia-sia dan jadi berjamur disimpan di udara yang lembap akibat hujan terus-menerus di siang hari. untuk apa, ia tak terlalu mau tahu dan peduli.

Peri Hutan yang sedang asyik sendiri dengan sekop, cungkilan tanah, dan bibit bunga mataharinya terkejut bukan kepalang tatkala mendongak dan melihat toples berisi separuh hatinya, yang dulu ia titipkan pada Madame Lovètti, tersodor persis di depan batang hidungnya. sambil masih tetap berjongkok, ia memiringkan kepalanya ke kiri untuk melihat siapa yang membawa pulang separuh hatinya itu. persis seperti yang ia harapkan. dan Peri Hutan tersenyum lebar sambil memicingkan matanya, berusaha melawan sinar matahari yang beradu penampakan dengan penyelamat hatinya itu. puas dan penuh hatinya hari ini.

menit berikutnya ia sudah berada di padang ilalang bersama hati barunya. berbaring menikmati angin semilir, seperti sedia kala, dengan dirinya mendekap separuh hatinya di dadanya.

“Peri Hutan, lain waktu kupinjam kembali separuh hatimu, yah…” pinta si hati baru yang juga berbaring tepat di sebelah Peri Hutan. dalam hitungan detik, ia takkan menyangka kali ini Peri Hutan yang akan menyodorkan permainan padanya. menggantikan permainan layang-layang, gasing berputar, petak-umpet, dan tebak-tebakan yang dulu biasa mereka mainkan.

“Tidak bisa. Tidak semudah itu kau bisa mendapatkan separuh hatiku kembali. Kalau kau memang benar-benar menginginkannya, apa yang akan kau lakukan untukku?” tanya Peri Hutan dengan senyum licik, dihiasi oleh mata bulatnya yang berbinar-binar seperti kanak-kanak. gembira dan bersemangat karena permainan baru yang menarik.

“Aku… takkan mengganggu kehidupanmu selama setahun,” jawab si hati baru sambil tersenyum dan menatap Peri Hutan tajam. permainan yang menarik selalu memacu jantungnya berdegup lebih kencang. dan kali ini tantangannya jauh lebih menarik daripada apapun yang ada di dunia, termasuk kehidupan itu sendiri.

“Baiklah. Aku akan menunggumu di padang ilalang ini tepat satu tahun dari sekarang. Pada saat itu akan kupinjamkan lagi separuh hatiku padamu,” balas Peri Hutan seraya menatap si hati barunya itu lekat-lekat. puas dengan jawaban si hati baru.

“Sampai jumpa, Peri Hutan! Aku pasti akan kembali mengambil separuh hatimu. Tunggu saja…” seru si hati baru bergairah sambil beranjak pergi, meninggalkan Peri Hutan yang masih berbaring mendekap separuh hatinya di dalam toples, sambil tersenyum dengan mata terpejam. menikmati sinar matahari yang berpadu dengan semilir angin. sekaligus meresapi kehadiran hati barunya yang datang membawakan toples berisi separuh hatinya, untuk kemudian pergi lagi dengan tak lupa meninggalkan segudang harapan buat masa depan.

“He offers a handshake. Crooked, five fingers. They form a pattern. Yet to be matched
On the surface simplicity. Swirling black lilies totally ripe. But the darkest pit in me.
It’s pagan poetry. Pagan poetry
Morsecoding signals. They pulsate and wake me up from my hibernate
….
I love him, I love him
….
This time I’m gonna keep me to myself. This time I’m gonna keep my all to myself
(She loves him, she loves him)
And he makes me want to hand myself over”
[Pagan PoetryBjörk (Vespertine)]

Made a meal and threw it up on Sunday
I’ve got a lot of things to learn.
Said I would and I’ll be leaving one day
before my heart starts to burn


Peri Hutan kedatangan hati barunya di hutan bunga matahari. hati barunya yang telah lama menghilang, kini muncul di depan pintu rumah pohonnya di saat subuh, di mana orang-orang masih meringkuk di balik selimut dan ngelindur, dan embun pagi masih menempel lekat di daun, sama halnya dengan belek dan iler yang masih lekat menempel di mata dan bantal. dan Peri Hutan mengucek-ngucek matanya, tak percaya akan kunjungan tiba-tiba ini.
So what’s the matter with you?
Sing me something new…don’t you know
The cold and wind and rain don’t know
They only seem to come and go away
semua perasaannya bercampur aduk, berbaur jadi satu. Peri Hutan sampai tak tahu lagi bagian mana yang lebih besar daripada yang lainnya. rasanya ingin sekali mendamprat, “kenapa baru datang sekarang??!!!” atau “tak pedulikah kau waktu itu aku nyaris mati tersungkur dari ayunan reyotku???!!!” tapi saat ini perasaan hatinya sudah tak karuan, jadi ia tak mau tambah merusaknya dengan berbuat hal-hal yang bodoh. maka alih-alih mendamprat si hati baru, ia hanya berkata datar, “tunggu sebentar, kuambil dulu jaketku.”
Times are hard when things have got no meaning i’ve
I’ve found a key upon the floor
Maybe you and I will not believe in
the thing we find behind the door

Peri Hutan dan hati barunya berjalan menyusuri jalan setapak dalam gelap dan diam. sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Peri Hutan sibuk menerka-nerka maksud kedatangan si hati baru dan mengenang-ngenang keadaan di masa lalu yang terasa jauh lebih baik dibandingkan sekarang. sedangkan si hati baru entah sibuk memikirkan apa. mungkin sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang dimilikinya untuk menaklukkan dunia. atau bagaimana caranya menjadi seorang superhero, menggantikan Superman.
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows
Yeah, nobody knows the way it’s gonna be

tak berapa lama, mereka sampai di padang ilalang, tempat di mana mereka dulu biasa menghabiskan sore dengan duduk-duduk dan menonton sepotong senja yang lewat. hanya saja kali ini tanpa kambing-kambing ceking yang menemani. “Peri Hutan, apa perbedaan jenggot dan janggut?” tanya si hati baru.
If you’re leaving will you take me with you?
I’m tired of talking on my phone
There is one thing I can never give you
My heart will never be your home
cukup sudah. permainan macam apa lagi yang akan ia dan hati barunya itu mainkan? Peri Hutan sudah capek meladeni permainan layang-layang, gasing berputar, petak-umpet, dan tebak-tebakan yang disodorkan oleh si hati baru. harus berapa karung keegoisan dan gengsi lagi yang ia dan hati barunya beli untuk memporak-porandakan semua yang selama ini mereka pikir mereka miliki?
So what’s the matter with you?
Sing me something new…don’t you know
The cold and wind and rain don’t know
They only seem to come and go away

jika semuanya memang selalu datang dan pergi buat Peri Hutan, mengapa bukan ia saja yang pergi kali ini? toh sepertinya pengorbanan bukan jalan yang ia dan hati barunya pilih untuk saat ini.
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows the way it’s gonna be
Stand by me, nobody knows
Yeah, nobody knows the way it’s gonna be
The way it’s gonna be, yeah
Baby I can see, yeah

dan Peri Hutan berlari menyusuri jalan setapak yang gelap dan dingin, meninggalkan hati barunya yang masih menunggu jawaban apa bedanya jenggot dan janggut dari Peri Hutan di padang ilalang, sebelum malam benar-benar turun menyingkap air matanya yang berderai.
[*] Stand By Me – Oasis (Be Here Now)
***
Aku tak pernah ingin menyerah
Tapi masihkah berarti kalau kalah?
Waktu menyiram tubuh
Darah pun menjadi putih
Aku tahu saat untuk pasrah
meski jauh di dalam tanah,
kulambai dirimu dengan pedih

kita semua yang hidup di dunia ini pasti menunggu sesuatu. entah itu menunggu bus untuk pulang, menunggu warisan, menunggu sembako, menunggu jodoh yang tepat, atau menunggu kematian. dan terkadang perkara menunggu ini bisa membuat kepala yang tidak gatal jadi terasa gatal karena tidak keramas sebulan. seperti kata Einsten tentang teori relativitas. ia bilang, “kalau kita menunggu dekat kompor, 5 menit saja rasanya seperti 5 jam. Tapi kalau dekat pacar 5 jam rasanya kayak 5 menit saja…” lama kelamaan Peri Hutan jadi linglung. tak tahu lagi apa yang ditunggunya atau dicarinya. busyet! bisa berabe urusannya kalau dibiarkan. hidup tak ada artinya lagi ketika kita hanya membunuh waktu di dalamnya tanpa tahu tujuan, dengan cara-cara yang ala kadarnya pula. ada yang bilang hidup adalah sebuah pilihan; di dalam hidup ini kita tak terhindarkan dari urusan pilih-memilih yang memusingkan kepala. tidak salah jika lantas ada yang berteori : penentu segala yang terjadi di dalam kehidupan ini adalah si empunya hidup itu sendiri, tak ada sangkut pautnya dengan sang Alam Semesta. ada lagi yang teguh pada keyakinan bahwa takdir itu memang sudah digariskan. kita tak bisa berbuat apa-apa selain menjadi aktor, pelakon drama kehidupan yang sudah tertoreh di dalam skenario karena toh pilihan-pilihan yang telah kita buat itu rupa-rupanya juga sudah terdapat di dalam naskah. lalu ada juga yang coba-coba menjadi penengah : si empunya hidup boleh saja berencana atau berusaha (dan memang harus seperti itu; bukannya bertopang dagu menunggu durian runtuh dari langit) tapi penentu segalanya tetap saja sang Alam Semesta. *** seperti tamu yang tak diundang, ingatan tentang si Kurcaci Tukang Sulap lagi-lagi meluncur deras tanpa permisi. bukannya tanpa sebab tiba-tiba si kurcaci, yang memang pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang sulap itu bisa muncul di benak Peri Hutan. pasalnya, kemarin sore Peri Hutan berjanji dengan sahabat lamanya, Peri Dagu Runcing, untuk bertemu di perbatasan hutan bunga matahari dan hutan pinus, yang sekarang jadi tempat tinggal sahabat lamanya itu. memang sejak kepindahan Peri Dagu Runcing ke hutan sebelah, Peri Hutan jadi jarang sekali bertemu dengan peri yang suka tertawa terkekeh-kekeh ini. selama setahun pertemuan mereka bisa dihitung dengan jari, karena mereka sudah memiliki kehidupan dan masalahnya sendiri masing-masing. makanya, pertemuan langka semacam ini tak disia-siakan oleh keduanya. tak ada yang istimewa dari pertemuan itu, sampai si Kurcaci Tukang Sulap tiba-tiba muncul untuk menjemput Peri Dagu Runcing, satu-satunya adik yang ia miliki. ah, seharusnya Peri Hutan tahu sampai kapanpun ia takkan bisa menghindar dari tukang sulap yang agaknya sayang benar pada adiknya itu. pokoknya di mana ada Peri Dagu Runcing sudah dapat dipastikan ada Kurcaci Tukang Sulap yang menemani. Peri Hutan masih ingat lelucon-lelucon bodoh si Kurcaci Tukang Sulap yang sering ia lontarkan dan kepiawaiannya dalam bermain sulap yang selalu membuatnya tercengang. ia juga masih ingat benar kejadian di stasiun Kaktus yang mengubah segalanya di antara mereka. kejadian di mana banyak sekali janji pertemuan dengan si Kurcaci Tukang Sulap yang ia abaikan. dan ketika akhirnya janji pertemuan di stasiun Kaktus untuk pergi berpetualang bersama itu ia penuhi, ia malahan menghilang dalam kereta yang sama tanpa pernah turun dari gerbong. ia bahkan tak bisa lupa bagaimana ia bersembunyi dan mengintip di balik gorden kaca gerbongnya, meninggalkan Kurcaci Tukang Sulap yang kebingungan menunggu tanpa kabar darinya sambil menggendong ransel. meski kejadian itu sudah sangat lama terjadi. alasannya hanya ketakutan yang mengada-ada. takut ia tersesat dan tidak menemukan jalan pulang. takut tak tahu apa yang harus diobrolkan dan perjalanan yang panjang itu jadi terasa membosankan. takut ditipu seperti TKW di negeri tetangga karena bodoh dan tak tahu apa-apa jika dibandingkan dengan Kurcaci Tukang Sulap yang nampaknya sudah banyak makan asam garam. ironis memang jika dirunut dari awal. di balik sikap gagah beraninya, Peri Hutan cuma peri yang payah yang selalu lari dari apapun sambil menggendong ranselnya yang berisi buntalan ketakutan. apa jadinya jika waktu itu Peri Hutan memilih turun dari keretanya? dari Peri Dagu Runcing ia tahu bahwa Kurcaci Tukang Sulap tak pernah terlibat janji pertemuan lagi dengan siapapun sejak kejadian di stasiun Kaktus itu. lalu apa yang membuat si Kurcaci Tukang Sulap masih setia di dalam penantiannya sampai sekarang? apa yang sebenarnya selama ini Peri Hutan butuhkan? mengapa ia selalu memilih menunggu untuk sesuatu yang tak pernah pasti padahal tawaran-tawaran di depan batang hidungnya lalu lalang? dan banyak kata tanya apa dan mengapa lainnya yang akan terlontar jika kalimat ini dilanjutkan. mungkin akan lebih mudah jika Peri Hutan memiliki keyakinan bahwa ia mungkin saja ditakdirkan untuk sebatang kara sepanjang hidupnya. jadi yang ia perlukan hanyalah kebesaran hati untuk menerima takdirnya itu, tanpa perlu merasa was-was atau dihantui perasaan bersalah dan penyesalan. *** “Kembang gula sugus rasa jeruk untuk Peri Hutan yang manis!” seru Kurcaci Tukang Sulap sambil tersenyum simpul dan menyodorkan sebungkus permen sugus rasa jeruk, yang disulapnya keluar dari belakang telinga kanan Peri Hutan. hanya satu hal ini yang tidak pernah berubah dari Kurcaci Tukang Sulap, bahkan semenjak hari di mana Peri Hutan meninggalkannya sendirian di stasiun Kaktus; ia selalu menghadiahkan permen rasa jeruk buat Peri Hutan dengan trik sulapnya. “Waw! Kembang gula rasa jeruk!!!” pekik Peri Hutan girang. matanya yang bulat berbinar-binar bagai kanak-kanak di dunia fantasi. walau sudah berkali-kali si Kurcaci Tukang Sulap melakukan trik itu, Peri Hutan seakan-akan tak pernah bosan dibuatnya dan selalu terkagum-kagum dengan tipuan sulap semacam itu. *** entah harus berapa pertemuan tak disengaja lagi yang harus Peri Hutan dan Kurcaci Tukang Sulap lewatkan, tanpa terjebak di dalam kebisuan panjang yang menyiksa sehabis sulap permen rasa jeruk…

Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu
mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk belanja
keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun lalu, ayah sendirian di
kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5 orang bergiliran menjenguknya.

Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di Teluk Intan.
Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Setiap kali saya
menjenguknya, setiap kali itulah istri saya mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala
Lumpur.

“Nggak usah. lain kali saja.!”jawab ayah. Jawaban itu yang selalu diberikan kepada kami
saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah mengalah dan mau menginap bersama
kami, namun 2 hari kemudian dia minta diantar balik. Ada-ada saja alasannya.

Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan sekolah masih
libur, maka anak-anak saya sering bermain dan bersenda-gurau dengan kakek mereka.
Memasuki hari ketiga, ia mulai minta pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang
diberikannya. “Saya sibuk, ayah. tak boleh ambil cuti. Tunggulah sebentar lagi. akhir
minggu ini saya akan antar ayah,” balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek
mereka. “Biarlah ayah pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus saja yah.”
katanya yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah berkali-kali pulang
naik bus sendirian.

“Nggak usah saja yah.” bujuk saya saat makan malam. Ayah diam dan lalu masuk ke
kamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak berangkat ke kantor, ayah
sekali lagi minta saya untuk membelikannya tiket bus. “Ayah ini benar-benar nggak mau
mengerti yah. saya sedang sibuk, sibuuukkkk!!!” balas saya terus keluar menghidupkan
mobil.

Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat mukanya. Di dalam
mobil, istri saya lalu berkata, “Mengapa bersikap kasar kepada ayah? Bicaralah baik-
baik! Kasihan khan dia.!” Saya terus membisu.

Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya penuhi permintaan
ayah. “Jangan lupa, Pa.. belikan tiket buat ayah,” katanya singkat. Di kantor saya
termenung cukup lama. Lalu saya meminta ijin untuk keluar kantor membeli tiket bus
buat ayah.

Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah untuk bersiap. “Bus berangkat pk.
14.00,” kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap agak kasar karena didorong
rasa marah akibat sikap keras kepala ayah. Ayah tanpa banyak bicara lalu segera
berbenah. Dia masukkan baju-bajunya kedalam tas dan kami berangkat. Selama dalam
perjalanan, kami tak berbicara sepatah kata pun.

Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa saya.! Setibanya di
stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu saya Pamit dan terus turun dari bus.
Ayah tidak mau melihat saya, matanya memandang keluar jendela. Setelah bus

berangkat, saya lalu kembali ke mobil. Saat melewati halaman stasiun, saya melihat
tumpukan kue pisang di atas meja dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan
teringat ayah yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia selalu
minta dibelikan kue itu. Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun.

Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu. Ingat pekerjaan di
kantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan, ingat Istri yang berada di kantornya.
Malam itu sekali lagi saya mempertahankan ego saya saat istri meminta saya menelpon
ayah di kampung seperti yang biasa saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus.
Malam berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi. “Nggak mungkin
belum tiba,” jawab saya sambil meninggikan suara.

Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan. “Ayah sudah tiada.”
kata sepupu saya disana. “Beliau meninggal 5 menit yang lalu setelah mengalami sesak
nafas saat Maghrib tadi.” Ia lalu meminta saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh
terduduk di lantai dengan gagang telepon masih di tangan. Istri lalu segera datang dan
bertanya, “Ada apa, bang?” Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru
bisa berkata, “Ayah sudah tiada!!”

Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat Itu saya sadar
betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue pisang, kata-kata saya kepada
ayah, sikapnya sewaktu di rumah, kata-kata istri mengenai ayah silih berganti menyerbu
pikiran.

Hanya Tuhan yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu. Saya sangat
merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya mencurahkan perasaan,
seorang teman yang sangat pengertian dan ayah yang sangat mengerti akan anak-
anaknya. Mengapa saya tidak dapat merasakan perasaan seorang tua yang merindukan
belaian kasih sayang anak-anaknya sebelum meninggalkannya buat selama-lamanya.

Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati saya bagai terobek-
robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya tidak dapat menahan air mata jika
teringat semua peristiwa pada saat-saat akhir saya bersamanya. Saya merasa sangat
bersalah dan tidak dapat memaafkan diri ini.

Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan ibu masih hidup.
Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak berarti lagi.

Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka.
Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu.

Malaikat kecilku tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih
Istriku berkata kepada aku yang sedang baca Koran, “berapa lama lagi
kamu baca Koran itu? Tolong kamu ke sini Dan Bantu anak perempuanmu
tersayang untuk makan.”

Aku taruh Koran Dan melihat anak perempuanku satu2nya,namanya Sindu
tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya Ada semangkuk nasi
berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang
manis Dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun dia sangat
tidak suka makan curd rice ini. Ibu Dan istriku masih kuno mereka
percaya sekali kalau makan curd rice Ada “cooling effect”.
Aku mengambil mangkok Dan berkata, “Sindu sayang, demi ayah, maukah
kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak ,nanti ibumu akan
teriak2 sama ayah.”

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku.
Tangis Sindu mereda Dan IA menghapus air Mata dengan tangannya Dan
berkata, “boleh ayah akan aku makan curd rice
ini tidak hanya beberapa
sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta…” agak ragu2
sejenak… “…akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya.
Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan Ku?”

Aku menjawab, “Oh pasti sayang”.

Sindu tanya sekali lagi, “betul ayah?”

“Yah pasti..” sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan Dan
lembut sebagai tanda setuju.

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama,istriku menepuk
tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “janji” kata
istriku. Aku sedikit khawatir Dan berkata: “Sindu jangan minta komputer atau
barang2 lain yang Mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”
Sindu menjawab, “jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 Mahal kok.”

Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan Dan kelihatannya sangat menderita
dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku
marah
sama istri Dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang
tidak disukainya. Setelah Sindu melewati penderitaannya dia mendekatiku
dengan Mata penuh harap Dan semua perhatian (aku ,istriku Dan juga
ibuku) tertuju kepadanya.

Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin pada Hari Minggu.

Istriku spontan berkata, “permintaan Gila, anak perempuan
dibotakin,tidak mungkin!” Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga Kita,
dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak
kebudayaan Kita. Aku coba membujuk: “Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang
lain kami semua akan sedih melihatmu botak.” Tapi Sindu tetap dengan
pilihannya, “tidak Ada „yah, tak Ada keinginan lain,” kata Sindu.

Aku coba memohon kepada Sindu, “tolonglah kenapa kamu tidak mencoba
untuk mengerti perasaan kami.”

Sindu dengan menangis berkata, “ayah sudah melihat bagaimana
menderitanya aku menghabiskan nasi susu
asam itu Dan ayah sudah berjanji untuk
memenuhi permintaan aku kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah
sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa Kita
harus memenuhi janji Kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti
Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala ) untuk memenuhi
janjinya raja real memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya
sendiri.”

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku, “janji Kita
harus ditepati.” Secara serentak istri Dan ibuku berkata, “apakah aku
sudah Gila?”

“Tidak,” jawabku, “kalau Kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan
pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri.”

“Sindu permintaanmu akan kami penuhi.”

Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar Dan matanya besar Dan
bagus.
Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak
berjalan ke kelasnya Dan
melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum
aku membalas lambaian tangannya. Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari
Mobil sambil berteriak, “Sindu tolong tunggu saya.” yang mengejutkanku
ternyata kepala anak laki2 itu botak aku berpikir mungkin “botak” model
jaman sekarang.

Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari Mobil Dan
berkata, “anak anda,Sindu benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama
dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.”
Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai
melelh dipipinya ” bulan lalu Harish tidak masuk sekolah,karena chemo
therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi kesekolah takut
diejek oleh teman2 sekelasnya. Nah, Minggu lalu Sindu datang ke rumah
Dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin
terjadi.
Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan
rambutnya

yang indah untuk anakku Harish. Tuan Dan istri tuan sungguh diberkati
Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”

Aku berdiri terpaku Dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat
kecilku tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih.

Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki umur delapan tahun berjalan menuju
ke sebuah gerai tempat penjual eskrim. Karena pendek, ia terpaksa memanjat untuk bisa
melihat si pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana hingar
bingar mal yang serba wangi dan indah.

“Mbak sundae cream harganya berapa?” si bocah bertanya.

“Lima ribu rupiah,” yang ditanya menjawab.

Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung recehan di
tangannya dengan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar.
Maklum, banyak pembeli yang lebih “berduit” ngantre di belakang pembeli ingusan itu.

“Kalau plain cream berapa?”

Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, “Tiga ribu lima ratus”.

Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya, ” Kalau begitu saya mau sepiring plain cream
saja, Mbak,” kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta. Si
pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.

Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor yang sudah
ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah tadi, ia
terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang logam limaratusan serta lima keping
recehan seratusan yang tersusun rapi.

Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya
bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi
dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.

Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi: setiap manusia di dunia ini adalah penting. Di
mana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan sopan, bermartabat, dan dengan
penuh hormat.